CIA Pantau PKI

Ada Apa dengan Nasution dan CIA?

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Jumat, 29 Sep 2017 11:39 WIB
Dokumen CIA soal PKI (Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Dokumen CIA pada 1965 menunjukkan kedekatan Amerika dengan tentara AD untuk memberantas komunis. Jenderal AH Nasution punya cerita sendiri dalam dokumen CIA.

Dokumen CIA memantau PKI terungkap dalam puluhan dokumen bertajuk 'The President's Daily Brief', yang kini bisa diakses publik dari perpustakaan digital CIA. Seperti detikcom lihat dari situs CIA, Jumat (29/9/2017), dokumen ini beberapa bagian paragrafnya dalam kondisi asli sudah disensor oleh CIA.

Namun ada juga cerita penting bagi masyarakat Indonesia yang tidak disensor CIA. Mungkin dianggap tidak penting. Ini adalah cerita soal Jenderal AH Nasution, petinggi AD yang sangat antikomunis. Selain Brigjen Sukendro dan Mayjen Soeharto, Jenderal AH Nasution beberapa kali muncul dalam dokumen CIA tersebut.

Baca Juga: Kisah Jenderal ke-8 yang Lolos G30S/PKI dan Penting untuk CIA

CIA melaporkan kepada Presiden Lyndon B Johnson pada 1 Oktober 1965 bahwa Menhan Nasution terluka dalam peristiwa G30S. Pada 6 Oktober 1965, CIA menyambut baik kembali aktifnya Nasution bermanuver aktif melawan PKI. Bahkan CIA menyebut Nasution sebagai 'Brain Trust'.

"Menhan Jenderal Nasution, brain trust (kelompok pemikir) paling penting di AD yang lolos dari pembunuhan, muncul di muka umum kemarin dan mungkin memainkan peran lebih aktif untuk strategi politik AD. Nasution tidak menghadiri rapat kabinet hari ini," kata CIA.

Kenapa begitu? Menurut Antonie CA Dake dalam buku 'Sukarno File' menyebut Sukarno sengaja menggeser Nasution menjadi Menhan karena dinilai kurang loyal. Gantinya, Sukarno mengangkat Ahmad Yani sebagai Menteri Pangad. Yani dan Nasution memang rival, namun untuk urusan PKI dan komunisme, ternyata mereka satu suara dan Sukarno tidak tahu itu.

Pemakaman putri Nasution pada 7 Oktober 2017, menurut CIA, berhasil memicu kemarahan umat Islam untuk bangkit melawan PKI. Namun informasi paling vital adalah pada 22 Oktober 1965. Waktu itu AD masih dalam posisi imbang dalam memberantas PKI.

Dokumen CIA mengungkap Nasution meminta diselamatkan keluar dari Jakarta kalau sampai situasi memburuk. Permintaan Nasution dilaporkan CIA ke Presiden Johnson, yang mengindikasikan Nasution memang penting untuk CIA.

"Ajudan Jenderal Nasution telah meminta atase militer kita untuk siap menolong Nasution meninggalkan Jakarta kalau situasi memburuk," kata CIA.

Baca Juga: CIA Tuding Sukarno Adu Domba PKI dan Tentara

Pada 25 Oktober 1965, CIA melaporkan AD semakin unggul atas PKI. Nasution bermanuver menyerang Wakil PM Soebandrio dan PKI lewat sebuah pernyataan politik yang keras di radio.

"Ucapannya ditujukan melawan Soebandrio dan badan intelijen Soebandrio dan PKI. Dia menyebutkan AD akan menghabisi para pengkhianat di dalam angkatan bersenjata," kata CIA.

Berikut adalah kumpulan dokumen CIA tanggal 1, 6, 7, 22, 25 Oktober 1965 yang diterjemahkan detikcom. Tanda 'Disensor' artinya dokumen asli kalimat atau paragraf sudah dalam kondisi disensor pada dokumen asli yang diterima detikcom:

Ada Apa dengan Nasution dan CIA?The President's Daily Brief dari CIA (Muhammad Ridho/detikcom)
1 OKTOBER 1965

Permainan kekuatan melawan pimpinan Angkatan Darat yang anti-Komunis telah diikuti oleh percobaan countercoup. Situasi semuanya membingungkan dan hasilnya masih meragukan.

Peran Sukarno, jika ada, dalam gerakan hari ini masih menjadi pertanyaan besar yang tidak terjawab. Kedua pihak mengklaim mereka setia kepada presiden dan melindungi dia. (KALIMAT DISENSOR CIA).

Enam jenderal termasuk Panglima Yani, sepertinya diculik oleh para pelaku asli. Setidaknya 2 jenderal telah dibunuh dan sisanya termasuk Yani dan Menteri Pertahanan Nasution terluka.

Mayjen Soeharto memimpin countercoup beberapa jam kemudian. Dia mengambil alih radio Jakarta. (KALIMAT DISENSOR CIA).

Tidak jelas bagaimana kelompok Komunis di Indonesia akan bereaksi. Satu laporan menyebutkan PKI menyiapkan bentrok dengan angkatan darat dalam beberapa hari ke depan. Angkatan Darat juga berupaya mengurangi kekuatan Komunis mumpung masih ada kesempatan.

Semua bergantung kondisi Sukarno. Kalau dia meninggal, atau cacat serius, perang saudara yang berdarah akan terjadi. Kemungkinan lain ada upaya dari pulau luar khususnya Sumatera untuk melepaskan diri dari dominasi Jawa.

6 OKTOBER 1965

Sukarno hari ini menunjukkan diri sebentar kepada wartawan di Bogor, Istana 40 mil di selatan Jakarta. Dia menolak menjawab pertanyaan, dan menyuruh Wakil PM berhaluan kiri, Soebandrio, menjelaskan rapat kabinet pagi ini.

Pernyataan Soebandrio mencakup omongan Sukarno yang meminta bersatu dalam 'suasana tenang dan tertib' dan tidak melakukan 'balas dendam'.

Dari semua indikasi, tampaknya pimpinan AD masih ingin menghabisi Komunis dan menjadi waspada dengan Sukarno.

(PARAGRAF DISENSOR CIA)

Menhan Jenderal Nasution, brain trust (kelompok pemikir) paling penting di AD yang lolos dari pembunuhan, muncul di muka umum kemarin dan mungkin memainkan peran lebih aktif untuk strategi politik AD. Nasution tidak menghadiri rapat kabinet hari ini.

Di Jakarta, selebaran beredar pagi ini meminta masyarakat menghancurkan Komunis dan kawasan di mana komandan AD membolehkan koran Komunis untuk terbit kembali. Menteri komunikasi telah melarang semua penerbitan koran yang 'memberi kesan' mendukung Gerakan 30 September.

7 OKTOBER 1965

Sukarno membuat kemajuan untuk meredam Gerakan 30 September dan mencegah aksi anti-Komunis. Kedubes AS mengatakan AD akan beraksi melawan mereka yang terlibat langsung membunuh para jenderal dan mengizinkan Sukarno untuk kembali dengan kekuatannya.

Tapi, Kedubes AS juga melaporkan pemakaman para jenderal dan anak perempuan Nasution telah berhasil membangkitkan kemarahan elemen Muslim dan ini bisa mengarah kepada kekerasan baru antara mereka dan Komunis.

Di titik ini, Sukarno dan Wakil PM Soebandrio akan mencoba menyalahkan CIA untuk skandal 30 September. Soebandrio, sebagai tambahan menyebutkan kepada publik pernyataan PKI tidak terlibat di dalam plot tersebut. AD ingin menangkis pernyataan itu. Soebandrio bisa jadi saluran PKI untuk mengungkapkan itu.

(PARAGRAF DISENSOR CIA)

Ada Apa dengan Nasution dan CIA?Dokumen CIA soal PKI (Muhammad Ridho/detikcom)
22 OKTOBER 1965

Rapat para pejabat di Jakarta masih berlangsung, sepertinya mengarah pada sesi antara Sukarno dan pejabat provinsi dari segala bagian yang dijadwalkan besok.

Ada beberapa pengumuman dari rapat ini. Beberapa antara lain alih kendali koran, radio dan televisi dari AD ke Kementerian Penerangan, tampaknya Sukarno mendapatkan beberapa peluang. Yang lain tampaknya menunjukkan keteguhan AD untuk mengejar komunis masih kuat.

Ajudan Jenderal Nasution telah meminta atase militer kita untuk siap menolong Nasution meninggalkan Jakarta kalau situasi memburuk.

(PARAGRAF DISENSOR CIA)

25 OKTOBER 1965

Pimpinan militer membuat kemajuan selama akhir pekan untuk menetralkan kekuatan Wakil PM Soebandrio. Dalam prosesnya Sukarno dan Menhan Nasution mengerjakan apa yang bisa jadi jalan keluar sementara.

Dubes Jepang yang dekat dengan Istana mengatakan AD mengintervensi untuk mencekal Soebandrio pergi ke Aljazair. Dubes Jepang bilang Soebandrio seperti dalam tahanan kota.

Sukarno setuju di bawah tekanan militer untuk membatalkan penunjukan kepala Intelijen AD. Orang barunya tidak menyenangkan karena punya hubungan dekat dengan Soebandrio.

Sebagai refleksi dari perubahan situasi, Nasution memberikan pernyataan politik yang keras di Radio Indonesia hari ini. Ucapannya ditujukan melawan Soebandrio dan badan intelijen Soebandrio dan PKI. Dia menyebutkan AD akan menghabisi para penghianat di dalam angkatan bersenjata.

Di provinsi, komando militer Jawa Timur menutup PKI dan jaringannya. Kegiatan komunis dinyatakan terlarang di seluruh Jawa, Sulawesi dan beberapa provinsi lain. (fay/tor)