CIA Pantau PKI

CIA Tuding Sukarno Adu Domba PKI dan Tentara

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Kamis, 28 Sep 2017 13:11 WIB
Dokumen CIA soal G30S/PKI (Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Dokumen CIA mengungkap betapa Amerika tidak suka terhadap Sukarno. Bahkan CIA menyebut Sukarno mengadu domba tentara dengan PKI, yang puncaknya adalah peristiwa G30S/PKI.

Pernyataan CIA ini tercantum dalam tumpukan dokumen rahasia bertajuk 'The President's Daily Brief'. Ini adalah laporan harian kegiatan intelijen CIA, termasuk di Indonesia pada 1965, kepada Presiden AS Lyndon B Johnson.


Setelah 50 tahun, sesuai UU Kebebasan Informasi di AS, dokumen rahasia ini dibuka untuk publik dan bisa di-download dari perpustakaan digital CIA. Seperti dibaca detikcom, Kamis (28/9/2017) dalam laporan sepanjang September-Oktober 1965, benang merahnya adalah betapa AS dan CIA tidak suka terhadap Sukarno dan tentunya PKI. CIA melaporkan dengan nada positif terhadap aksi tentara AD memberantas PKI.

Catatan yang menarik adalah bagaimana CIA menjelaskan kepada Presiden Johnson tentang persaingan segitiga Sukarno-PKI-Angkatan Darat. Persaingan segitiga ini banyak juga diulas dalam banyak buku karya Antonie CA Dake, John Roosa, Willem Oltmans, Harold Crouch, Ben Anderson, dan lain-lain.

Perlu dipahami, 'The President's Daily Brief' adalah sudut pandang subjektif CIA melihat Indonesia. Saat peristiwa G30S/PKI terjadi, CIA menyebutnya sebagai power play alias pemainan kekuatan.

"Permainan kekuatan melawan pimpinan Angkatan Darat yang antikomunis telah diikuti oleh percobaan countercoup. Situasi semuanya membingungkan dan hasilnya masih meragukan," tulis CIA dalam laporan tanggal 1 Oktober 1965.

"Peran Sukarno, jika ada, dalam gerakan hari ini masih menjadi pertanyaan besar yang tidak terjawab," kata CIA. Mereka menilai Sukarno ikut andil.


Pada 4 Oktober 1965, CIA melaporkan betapa Sukarno berusaha mengembalikan keseimbangan kekuatan politik yang bertikai antara tentara AD dan PKI. "Pemimpin AD kini tampaknya yakin Sukarno sendiri terlibat dalam plot melawan mereka," kata CIA.

Catatan yang paling vulgar, CIA dalam laporan tanggal 14 Oktober 1965, menyebutkan taktik Sukarno sebelum kejadian G30S/PKI adalah mengadu tentara AD dengan PKI (his old game of playing one off against the other). Ini tentu tudingan sangat serius dari CIA terhadap Sukarno.

"Sukarno tidak bisa mengabaikan para jenderal sampai dia bisa membangkitkan komunis dan kembali ke permainan lamanya mengadu satu sama lain," tulis CIA.

Sikap ambigu Sukarno terhadap G30S/PKI dinilai CIA adalah cara Presiden Indonesia itu menyeimbangkan duel antara PKI dan para jenderal AD. Berikut ini adalah laporan lengkap CIA tanggal 1, 4, dan 14 Oktober 1965 yang diterjemahkan dengan format paragraf aslinya, dalam kondisi beberapa bagian sudah disensor CIA:

1 OKTOBER 1965

Permainan kekuatan melawan pimpinan Angkatan Darat yang anti-Komunis telah diikuti oleh percobaan countercoup. Situasi semuanya membingungkan dan hasilnya masih meragukan.

Peran Sukarno, jika ada, dalam gerakan hari ini masih menjadi pertanyaan besar yang tidak terjawab. Kedua pihak mengklaim mereka setia kepada presiden dan melindungi dia. (KALIMAT DISENSOR)

Enam jenderal termasuk Panglima Yani, sepertinya diculik oleh para pelaku asli. Setidaknya 2 jenderal telah dibunuh dan sisanya termasuk Yani dan Menteri Pertahanan Nasution terluka.

Mayjen Soeharto memimpin countercoup beberapa jam kemudian. Dia mengambil alih radio Jakarta. (KALIMAT DISENSOR)

Tidak jelas bagaimana kelompok Komunis di Indonesia akan bereaksi. Satu laporan menyebutkan PKI menyiapkan bentrok dengan angkatan darat dalam beberapa hari ke depan. Angkatan Darat juga berupaya mengurangi kekuatan Komunis mumpung masih ada kesempatan.

Semua bergantung kondisi Sukarno. Kalau dia meninggal, atau cacat serius, perang saudara yang berdarah akan terjadi. Kemungkinan lain ada upaya dari pulau luar khususnya Sumatera untuk melepaskan diri dari dominasi Jawa.

4 OKTOBER 1965

Sukarno sedang merapikan kekuasaannya, tapi mungkin kehilangan beberapa sumber kekuatannya karena hasil dari percobaan kudeta 30 September.

Tindakannya sejauh ini tampaknya dirancang untuk memutar waktu kembali dan mengembalikan keseimbangan antara kekuatan yang bertikai seperti pada Kamis lalu. Gerakan Sukarno membuat para jenderal tidak puas, tapi mereka tidak berani melawan langsung.

Jenderal Soeharto yang berwenang menjaga ketertiban, hari ini kepada publik mengatakan berbeda sikap dengan Sukarno mengenai keterlibatan AU dalam upaya kudeta. Sebagai tambahan, pemimpin AD kini tampaknya yakin kalau Sukarno sendiri terlibat dalam plot melawan mereka.

Meski Sukarno menepis anggapan itu, ada cukup perasaan di lingkaran AD bahwa ini saatnya menggulung Komunis. Perasaan ini muncul setelah pembunuhan Jenderal Yani dan 5 petinggi senior lain.

Aksi unjuk rasa antikomunis akan dijadwalkan besok di Jakarta, tapi masih dilihat dulu apakah cara lebih keras akan ditempuh.

Jakarta tenang hari ini sebagai ibu kota. Situasi berlanjut di Jawa Tengah di mana kekuatan pemberontak sekitar 110 orang di bawah Untung masih berkeliaran. Komunis bersenjata juga ada di kawasan ini.

14 OKTOBER 1965

Sekarang ada 2 pemerintahan di Indonesia. Satu dipimpin Sukarno dan satu lagi dipimpin para Jenderal.

Para jenderal tidak mengendalikan Sukarno dan sebaliknya. Faktanya, dua elemen ini hadir saling membutuhkan, demi menghindari perang saudara. AD melihat nama Sukarno berguna untuk melakukan aksi di belakang. Sukarno tidak bisa mengabaikan para jenderal sampai dia bisa membangkitkan Komunis dan kembali ke permainan lamanya mengadu satu sama lain.

Hari ini para jenderal unggul ketika Sukarno mengumumkan penunjukan Jenderal Soeharto sebagai Panglima AD. Para jenderal bersikukuh soal ini. Untuk bagian ini, Sukarno lagi-lagi mengatakan bahwa dia dan hanya dia yang akan mencari solusi politik. Para jenderal enggan mengikuti cara dia.

Untuk Komunis, mereka percaya konferensi melawan pangkalan militer di Jakarta hari Sabtu bisa jadi kesempatan untuk menyelamatkan posisi mereka. Setidaknya, memberi Sukarno dasar untuk mengembalikan garis kebijakan domestik dan luar negerinya.

Para jenderal enggan mengganggu kebijakan luar negeri Sukarno, (KALIMAT DISENSOR). (fay/tor)