DetikNews
Selasa 08 Agustus 2017, 16:09 WIB

Mengenal Ali Hanafiah, Calon Hakim Agung 'Termiskin'

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Mengenal Ali Hanafiah, Calon Hakim Agung Termiskin Ali Hanafiah (wildan/detikcom)
Jakarta - Dari 14 calon hakim agung 2017, Ali Hanafiah Selian memiliki harta paling sedikit yaitu tak sampai Rp 400 juta. Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu selalu membawa bekal makanan yang dibuatkan istri ke kantornya.

Harta Rp 390 juta itu terdiri dari rumah di Depok dengan status masih kredit serta sebuah mobil Toyota Rush tahun 2013 yang dibeli kredit. Ali menjadi dosen sejak 2002 silam, dengan mengajar pertama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

"Awal jadi dosen belum punya mobil, masih pakai sepeda motor," kata Ali saat berbincang santai dengan detikcom di kantornya di komplek UIN, Ciputat, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Setelah satu dasawarsa mengajar, Ali kemudian mencicil Toyota Rush. Belakangan, anak pertamanya yang membawa sepeda motor Vixion kecelakaan. Sehingga sepeda motor itu dijual, termasuk sepeda motor bebek. Dari penjualan dua sepeda motor itu, kemudian dipakai untuk uang muka beli bekas Toyota Altis.
Ali di depan mobil Altisnya (wildan/detikcom)Ali di depan mobil Altisnya (wildan/detikcom)

"Kalau Altis itu belinya baru berapa bulan lalu dan itu bekas dan dicicil," ujar ayah 3 anak itu.
Ada kebahagiaan tersendiri rasanya ingin membagi ilmu yang saya miliki walau pun honornya kecilCalon hakim agung, Ali Hanafiah

Selain mengajar di UIN, penghasilan Ali juga didapat dari mengajar di UPN dan Universitas Pamulang. Selain itu ia juga mendapat honor dari memberi ceramah keagamaan dan mengisi seminar. Penghasilan istri yang bekerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta juga menambah keuangan keluarga.

"Kalau ada jadwal, berapa pun honornya ya dateng. Jadi tidak pernah memikirkan honor, untuk dosen itu kecil sekali honornya, tapi bagi saya itu pengabdian, bagi muslim itu ibadah," tutur Ali yang meraih S1 dari Universitas Syah Kuala, Aceh.


Menurut Ali, yang terpenting bagi seorang dosen adalah menularkan ilmu, bukan soal materi.

"Pengembangan ilmu. Mengembangkan ilmu yang saya miliki, karena di Islam ada anjuran seperti itu. Kemudian ada kebahagiaan tersendiri rasanya ingin membagi ilmu yang saya miliki walau pun honornya kecil," kata Ali yang meraih doktor dari UIN Syarif Hidayatullah itu.

"Bagaimana menurut Anda tentang KY yang mengorek kekayaan Anda?" tanya detikcom.

"Saya kira bagus-bagus saja. Hakim agung kan pejabat negara ,nah harus siap. Siap terbuka melaporkan kepada publik kekayaanya itukan memang pertanggungjawabannya. Menurut saya, itu bukan membuka aib orang. Ya memang harus transparan seperti itu. Saya pikir sah-sah saja dan baik. Kalau memang tidak siap ya jangan masuk ke ranah itu," jawab Ali mantap.
(asp/asp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed