DetikNews
Kamis 03 Agustus 2017, 14:29 WIB

Perjalanan Bumi Datar, Dari Pseudoscience Sampai Olok-olok Politik

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Perjalanan Bumi Datar, Dari Pseudoscience Sampai Olok-olok Politik Ilustrasi Bumi Datar (Kiagus/detikcom)
Jakarta - 'Kaum Bumi Datar' adalah olok-olok politik yang sering kita dengar belakangan ini. Perjalanan istilah ini ternyata hampir 200 tahun lho!

Sebutan Kaum Bumi Datar setiap hari beredar di media sosial, forum online, komentar berita, meme dan entah apa lagi. Istilah ini sering ditempelkan kepada sebagian masyarakat yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Banyak yang marah karena olok-olok ini. Malahan banyak umat Islam yang merasa olok-olok ini ditujukan khusus untuk umat Islam. Padahal sama sekali bukan begitu ceritanya.

detikcom menghimpun berbagai sumber, Kamis (3/8/2017) untuk menelusuri jejak panjang lahirnya istilah Bumi Datar. Rupanya sampai hampir 200 tahun panjangnya. Berikut urut-urutannya:

1849

Berabad-abad lamanya manusia mengira Bumi itu datar, sampai akhirnya peradaban Yunani Kuno menemukan cara untuk memastikan Bumi itu bulat. Ilmuwan muslim Abu Rayhan Al Biruni (973-1048) menjadi orang yang pertama menemukan cara menghitung kelilng bulatnya Bumi di abad ke-10.

BACA JUGA: Kisah Al Biruni, Ilmuwan Muslim yang Mengukur Bumi Bulat

Namun kesepakatan soal Bumi bulat ditantang lagi oleh Samuel Rowbotham (1816-1885). Pada 1849 dia menyebarkan pamflet berjudul Zetetic Astronomy yang berpendapat Bumi itu datar. Pamflet ini memancing diskusi komunitas ilmiah saat itu. Tahun 1883, dia mendirikan Zetetic Societies di Inggris dan New York, AS. Rowbotham dianggap bapak Flat Earth modern. Flat Earth disebut sebagai pseudoscience, seperti ilmiah namun tidak memiliki dasar fakta.

1956

Sempat kehilangan popularitas, teori ini dicoba diangkat lagi oleh Samuel Shenton pada 1956 dengan mendirikan International Flat Earth Society di Dover, Inggris. Organisasi ini dianggap keturunan langsung dari Zetetic Society.

Ide liarnya pelan-pelan tergerus dengan peluncuran satelit Sputnik dari Uni Sovyet dan Apollo dari Amerika, serta aneka program pesawat luar angkasa pada dekade 1960-1970an. Masyarakat pun mulai bisa menikmati foto-foto Bumi yang bulat dari satelit, lewat berita-berita di koran.

2004

Yang terjadi saat ini disebut sebagai kemunculan kembali Flat Earth Theory. Daniel Shenton mendirikan Flat Earth Society internasional yang berbasis di Inggris pada tahun 2004.

BACA JUGA: Naik-Turun Kisah Si Bumi Datar

Pada masa ini, Shenton diuntungkan dengan perkembangan internet. Flat Earth Theory digoreng lewat situs internet dan dimainkan dengan rajin di media sosial dalam berbagai platform. Flat Earth Theory meraih popularitas dengan adanya YouTube.

2016

Pada 2016, video-video Youtube tentang Flat Earth Theory mulai merambah penonton di Indonesia. Video Flat Earth menjadi populer menjadi tontonan Youtube yang dinilai cukup menghebohkan netizen.

April 2016 mulai bermunculan aneka grup bertema Flat Earth di Facebook Indonesia. Misalnya, Indonesia Flat Earth Society, Flat Earth 101 Indonesia, atau Flat Earth ID dan lain-lain. Di akhir tahun 2016, komunitas Flat Earth berdiskusi dengan LAPAN. Namun LAPAN sama sekali tidak terkesan.

BACA JUGA: Soal Bumi Datar, LAPAN: Sama Sekali Tidak Ilmiah

2017

Pada awal 2017, istilah Bumi Datar mulai berubah menjadi olok-olok politik. Hal ini disebabkan kondisi panasnya Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Penyebutan istilah ini diduga dimulai dari beberapa situs opini dari pendukung Basuki Tjahaja Purnama.

Tulisan Denny Siregar 'Suatu Hari di Bumi Datar' pada 13 Januari 2017 dianggap sebagai penggunaan resmi 'Bumi Datar' pertama kali sebagai label politik. Sejak saat itu istilah 'Kaum Bumi Datar' marak dipakai sebagai olok-olok politik.

Kaum Bumi Datar menambah panjang nama olok-olok dari dua kelompok yang berseberangan secara politik. Mulai dari Kecebong, Sumbu Pendek, Kaum Bumi Datar, Bani Taplak dan seterusnya.
(fay/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed