DetikNews
Senin 31 Juli 2017, 18:42 WIB

Kisah Al-Biruni, Ilmuwan Muslim yang Mengukur Bumi Bulat

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Kisah Al-Biruni, Ilmuwan Muslim yang Mengukur Bumi Bulat Al-Biruni yang mengukur bulatnya Bumi (Twitter)
Jakarta - Diskusi Teori Bumi Datar di kalangan umat Islam dunia lebih pelik lagi karena memelintir ayat Al-Quran. Padahal justru ilmuwan Islam yang pertama mengukur bulatnya Bumi.

Teori Bumi Datar disebut pseudoscience, seperti ilmiah, padahal tidak ditemukan dasarnya. Begitulah tanggapan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang pernah berdiskusi langsung dengan penggiat Bumi Datar.

BACA JUGA: Soal Bumi Datar, Lapan: Sama Sekali Tidak Ilmiah

Lemah di argumen ilmiah membuat beberapa pendukung Bumi Datar yang muslim menambahkan ayat Al-Quran yang dinilai banyak pihak sebagai pelintiran ayat. Di YouTube bertebaran video seolah-olah ajaran Islam mendukung Bumi Datar dengan mengutip ayat yang menyebutkan Bumi menghampar.

Tentu ini klaim yang berbahaya. Padahal, kalau membuka lembaran sejarah, justru para ilmuwan muslim yang memastikan Bumi itu bulat pada abad ke-10 atau 6 abad lebih cepat dari Sir Francis Darke pada 1577, yang mengelilingi Bumi untuk membuktikan bumi itu bulat.

Dihimpun detikcom dari berbagai sumber, misalnya Owlcation, ilmuwan itu adalah Abu Rayhan al-Biruni (973-1048) yang hidup pada masa Khalifah Abbasiyah. Dia adalah ahli fisika, matematika, astronomi, sejarah, geologi, filsafat, geografi, dan ilmu alam lainnya.

Bagaimana Al-Biruni menentukan Bumi itu bulat, bahkan mengukur diameter Bumi? Inilah jeniusnya Al-Biruni. Dia cukup bermodalkan alat ukur derajat bintang yang disebut Astrolabe, gunung yang tinggi dengan pemandangan horizon yang rata sempurna dan yang ketiga rumus trigonometri.

Kisah Al Biruni, Ilmuwan Muslim Mengukur Bumi yang BulatDiagram perhitungan trigonometri mengukur radius bumi oleh Al-Biruni (YouTube)

Pertama, dia ukur dulu tinggi gunung yang dia naiki. Banyak sumber menyebutkan itu adalah gunung di India atau Pakistan yang masuk wilayah Kekhalifahan Abbasiyah. Mengukur tinggi gunung tidak semudah sekarang, Al-Biruni mengarahkan Astrolabe ke dua titik berbeda di daratan lalu tangen sudutnya dikalikan dan dibagi selisih tangen 2 sudut tersebut dengan rumus trigonometri.

Kemudian, nah ini bagian yang paling keren, Al-Biruni mengarahkan Astrolabe ke titik cakrawala, lalu membuat garis imajiner 90 derajat menembus ke dalam Bumi. Dia membuat segitiga siku-siku raksasa antara posisi dia berdiri, titik horizon, dan inti bumi. Al-Biruni pun mengatakan jari-jari Bumi adalah 6.335,725 km. Beberapa sumber lain menyebutkan hasilnya 6.339,9 km.

Kalau jari-jari Bumi sudah ketahuan, tidak sulit mengukur keliling Bumi dengan rumus keliling lingkaran, yaitu hasilnya 40.075 km. Nah, pengukuran Bumi di zaman modern dalam penelusuran detikcom, tercatat dalam World Geodetic System (WGS-84) yang disimpan National Geospatial-Intelligence Agency di Amerika Serikat dan jadi sumber perhitungan untuk Global Positioning System.

Di situ tercatat keliling Bumi adalah 40.075,071 km. Artinya perhitungan Al Biruni akurat! Hanya beda di desimal yang artinya meleset cuma di bawah 1 persen. Kerennya lagi, Al Biruni melakukannya 11 abad yang lalu.

Uniknya lagi, saat keliling Bumi dihitung secara melintang dengan poros Utara-Selatan hasilnya adalah 40.007,86 km. Ada selisih 67,211 km, artinya Bumi agak lonjong sedikit namun hal ini tidak akan kentara dilihat mata.

Kalau Bumi ini datar, sudah jelas perhitungan dengan trigonometri ini tidak mungkin dilakukan oleh Al Biruni.


(fay/fay)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed