Kesadaran masyarakat akan fungsi trotoar untuk pejalan kaki belum sepenuhnya diwujudkan oleh masyarakat di Bulan Tertib Trotoar ini. Salah satu contohnya pemandangan di trotoar di kawasan Pasar Tanah Abang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PKL meminta disediakan tempat untuk berdagang. (Cici Marlina Rahayu/detikcom) |
Sepanjang Jalan Jatibaru Raya masih banyak pedagang yang menggelar dagangan di trotoar meskipun terlihat beberapa petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berjaga. Mereka kebanyakan berdagang pakaian serta minuman kemasan.
Seorang pedagang pakaian, Andri, mengaku berjualan di trotoar lebih menguntungkan. Hal ini karena banyak orang yang membeli barang dagangannya saat berjualan di trotoar. "Di dalam (pasar) sepi, apalagi habis Lebaran gini. Kalau di trotoar ramai, lebih ramai dari di dalam, laku juga barangnya, banyak pembeli," ujar Andri saat ditemui detikcom di sekitar lokasi.
Andri mengaku takut jika ada penertiban oleh Satpol PP. Ia berharap pemerintah menyediakan tempat di dalam pasar dengan harga terjangkau.
PKL juga takut jika ada penertiban dari Satpol PP. (Cici Marlina Rahayu/detikcom) |
"Takut barang diangkut, tapi ini kan risiko kami. Barangnya sedikit, jadi kalau ada Satpol PP, kami bawa saja barangnya lari. Penginnya sih aman, disediakan tempat, kami pedagang kecil ya harus nanggung risikolah, ditangkap gimana, ikuti saja," ungkap Andri.
Seorang pedagang minuman kemasan yang tidak mau disebutkan namanya juga mengaku berdagang di luar pasar atau trotoar lebih diminati. Hal ini membuatnya menggelar lapak dagangan di trotoar walaupun ia tahu tidak diperbolehkan.
"Kami jualan di trotoar. Kalau di dalam kan kurang ramai. Pada (membeli) di depan, lebih diminati daripada di dalam. Ya, tahu nggak boleh. Tapi lebih laku gimana," tuturnya. (aan/bpn)

PKL meminta disediakan tempat untuk berdagang. (Cici Marlina Rahayu/detikcom)
PKL juga takut jika ada penertiban dari Satpol PP. (Cici Marlina Rahayu/detikcom)