KPAI Dukung 9 Pelaku Bully di Thamrin City Direhabilitasi

Cici Marlina Rahayu - detikNews
Rabu, 19 Jul 2017 08:31 WIB
Foto: Capture dari video bully di Thamrin City yang viral
Jakarta - Sembilan siswa pelaku bully terhadap siswi SD, SW, di Thamrin City menjalani rehabilitasi di panti milik Kementerian Sosial. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung langkah ini.

"Sebagai langkah awal penting saya kira. Kami belum cek apakah betul di rumah aman itu, yang pasti dua-duanya harus diselamatkan, baik korban dan pelaku," kata Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, Rabu (19/7/2017).



Menurut dia, cara penyelamatan keduanya tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing bagi korban maupun pelaku. "Korban kalau butuh direhab ya direhab. Kalau pelakunya dikhawatirkan menimbulkan masalah baru, katakan bisa saja kan pelaku dapatkan reaksi dari siapa pun maka memang penting juga diselamatkan di rumah aman, semata-mata agar pelaku itu mendapatkan ruang terbaik untuk perbaikan diri," ujar Susanto.

Susanto mengatakan kasus bully masih menjadi masalah serius yang biasa terjadi berulang kali. Hal ini dapat diakibatkan dari relasi yang tidak seimbang dan tidak terdeteksi dari orang terdekat korban.


"Kita perlu membangun budaya zero bullying. Kondisi ini menjadi tidak mudah bagi korban untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bully, korban bully dalam banyak kasus mengakibatkan luka ganda bagi korban. Ini juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh serta menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Bully dapat mengakibatkan kecemasan, depresi, sakit, mudah marah dan tidak nyaman untuk belajar dan bersekolah," papar dia.

Namun tidak jarang korban bully menyembunyikan penderitaannya baik dengan orangtua maupun sekolah. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang terjadi ketika korban menyembuyikan kejadian tersebut. "Ya itu, untuk menunjukkan tidak ada masalah pada dirinya, karena takut, tertekan. Bahkan dalam sebagian kasus, karena kondisi korban yang memutuskan harus diam agar korban tidak mendapatkan perilaku yang lebih kejam lagi," tuturnya.

KPAI mengimbau agar pemerintah daerah di seluruh Indonesia agar mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanganan bullying melalui sarana yang semakin canggih dan membutuhkan penyelesaian yang fundamental. Dunia pendidikan juga perlu mengembangkan model sekolah ramah anak, sebagai bentuk intervensi agar bullying tidak menjadi masalah yang mengakar.

Selain itu, kata dia, perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem dan budaya civitas akademika yang zero bullying agar mahasiswa dapat menjadi pelopor terdepan untuk promosi dan penanganan kasus bullying di masyarakat. Terakhir, orangtua dan masyarakat harus melakukan edukasi zero bullying sejak dini dalam pengasuhan agar lingkungan ramah anak dapat ditumbuhkan. (cim/aan)