DetikNews
Selasa 18 Juli 2017, 07:18 WIB

Bully Semakin Menjadi, Pengamat: Perlu Dibangun Empati ke Sesama

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Bully Semakin Menjadi, Pengamat: Perlu Dibangun Empati ke Sesama Foto: Salah satu penggalan video bully terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus. Gambar diedit untuk perlindungan terhadap korban. Istimewa
Jakarta - Pengamat Sosial Devie Rahmawati prihatin melihat viralnya video pem-bullyan terhadap anak di bawah umur dan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya agar kejadian serupa tidak terulang perlu ditingkatkan kembali sikap empati terhadap sesama.

"Agresi sosial yang menyasar kepada para peserta didik berkebutuhan khusus tersebut menjadi sebuah isyarat, tidak hadirnya produk nilai nilai moral dari institusi pendidikan. Sekolah atau kampus selama ini hanya memfokuskan diri pada upaya memproduksi pengetahuan umum tanpa disertai produksi keterampilan sosial dan membangun empati terhadap sesama," kata Devie dalam keterangannya kepada detikcom, Selasa (18/7/2017).

Devie menjelaskan agresi sosial atau perundungan yang terjadi di masyarakat kepada individu berkebutuhan khusus masih sangat tinggi. Kondisi ini mendorong individu berkebutuhan khusus lebih sering digoda atau dijadikan obyek lelucon oleh orang lain di sekitarnya.

"Berdasarkan studi di Barat, Individu berkebutuhan khusus memang memiliki potensi lebih besar untuk mengalami perundungan yaitu 46 persen dibandingkan dengan individu lain yaitu hanya sebesar 10 persen. Kondisi ini yang mendorong para individu berkebutuhan khusus sering mengalami kasus perundungan, di mana studi menunjukkan 73 persen mereka akan digoda atau dijadikan objek lelucon, 53 persen diasingkan, 47 persen akan diberikan label-label tidak positif dan 1/3 nya mengalami perundungan secara fisik," papar Devie.


Meski banyak menerima agresi sosial dan bully, tak sedikit dari mereka justru memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Menurut Devie, hal ini lah yang membuat mereka harus dilindungi dan didukung lingkungan sekitarnya.

"Satu fakta yang sering tidak dipahami publik bahwa sebagaian individu berkebutuhan khusus justru memiliki tingkat kecerdasan tinggi, yang membuat mereka mampu berinteraksi di tengah –tengah masyarakat umum. Kemampuan inilah justru yang membuat publik semestinya memberikan perlindungan dan dukungan terhadap mereka, tidak menyadari bahwa individu tersebut memiliki kondisi khusus, dimana mereka memiliki sensitifitas dan perilaku yang berbeda," jelasnya.
Bully Semakin Menjadi, Pengamat: Perlu Dibangun Empati ke SesamaFoto: Capture dari video bully di Thamrin City yang viral


Untuk itu Devie meminta agar sekolah atau instansi kampus agar menciptakan atmosfer pendidikan yang merangkul semua pihak. Tak hanya itu sikap zero tolerance juga penting diterapkan untuk menghindari agresi sosial atau bully.

"Komitmen terhadap upaya membangun atmosfer pendidikan yang merangkul semua pihak, tidak cukup hanya hadir dalam slogan maupun visi dan misi institusi pendidikan, namun harus mampu diturunkan secara operasional dalam aksi dan interaksi di dalam sekolah/kampus," tambah Devie.


Terakhir yang ditekankan Devie adalah peran lingkungan sekolah dan rumah untuk memberikan pengawasan serta sanksi bila ada perilaku bully yang terjadi di sekitarnya.

"Sekolah tidak dapat hanya berharap kepada rumah, bahwa orangtualah yang semestinya menanamkan nilai-nilai kasih sayang kepada sesama. Karena Perilaku yang hangat harus terus menerus dibarakan, di setiap situasi, sampai perilaku tersebut sudah menjadi karakter setiap anak didik. Artinya, tanpa adanya pengawasan dan sanksi sekalipun, setiap anak didik, sudah mampu mengelola emosi dan empatinya kepada individu lain," tutup Devie.


(adf/rna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed