DetikNews
Selasa 16 Mei 2017, 15:57 WIB

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di Xinjiang

Kiki Larasati - detikNews
Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di Xinjiang Patung founding father China, Mao Zedong, di alun-alun Kota Kashgar. (Hilman/Trans7)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2017
Kashgar - Jalur Sutra yang membuat suku Uighur di Kota Kashgar, China, mengenal Islam. Sejak saat itu, Islam terus berkembang dan menjadi agama mayoritas di suku Uighur.

Salah satu jejak Islam yang masih kental bisa kita temukan di pemakaman muslim Uighur. Pemakaman ini hanya ramai pada hari Kamis. Suku Uighur percaya, sebelum hari suci Jumat datang, mereka harus membersihkan diri. Salah satu caranya dengan mendoakan keluarga yang sudah berpulang.

Pemakaman ini terbilang unik dan sederhana, hanya menggunakan tanah liat sebagai nisan. Serupa bentuk dan warnanya, tidak ada tulisan tertera sebagai penunjuk nama dan tanggal.

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di XinjiangKompleks pemakaman muslim suku Uighur (Hilman/Trans7)

Berabad silam, saat Jalur Sutra kuno, Kashgar adalah gerbang utama yang menghubungkan peradaban Barat dan Timur. Menjadi tempat pertemuan budaya antara China, Eropa, dan Asia Selatan. Tapi sekarang kita masih bisa menemukan jejaknya di daerah kota tua yang menjadi rumah etnis asli Uighur.

Di kawasan ini kebanyakan warga hidup dari berdagang. Mereka membuat aneka kerajinan khas Uighur bagi wisatawan.

Salah satunya adalah dopa. Dopa adalah topi khas etnis Uighur. Tidak hanya untuk pria, dopa juga lazim dikenakan oleh perempuan. Topi ini juga tidak kenal umur, tua-muda semua bisa memakainya.

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di XinjiangLaki-laki Uighur memakai dopa, topi tradisional Uighur. (Hilman/Trans7)

Nuri Maghul adalah salah satu perempuan suku Uighur yang masih aktif membuat dopa. Selain dopa, Nuri menjual atlas, kain khas Uighur yang biasa dikenakan pada acara khusus.

Dahulu kala, menjadi sebuah pemandangan biasa melihat dopa jadi bagian dari busana. Kini cuma pria saja yang memakai dopa sehari-hari. Sementara perempuan mengenakan dopa hanya di acara istimewa.

Dopa kini lebih banyak dijual di jalan-jalan untuk buah tangan para wisatawan. Suami Nuri, Muhammad Tursun, juga masih membuat makanan khas Uighur, paxmac.

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di XinjiangMuhammad Tursun masih membuat makanan khas Uighur, paxmac. (Hilman/Trans7)

Dulu, paxmac dibawa bepergian karena dipercaya membawa keselamatan. Tapi sekarang sudah menjadi camilan sehari-hari.

Diawasi Ketat

Di sisi lain, isu suku Uighur di Provinsi Xinjiang memang sangat sensitif bagi Pemerintah China. Tak aneh, meski suku Uighur terlihat hangat, mulut mereka terkunci rapat saat ditanya tentang kebebasan beragama.

Jika muslim di Provinsi Henan dapat hidup nyaman dan merawat akar tradisinya, lain cerita dengan muslim di Kota Kashgar, Provinsi Xinjiang. Kashgar memang eksotik, namun pelik.

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di XinjiangKota tua Kashgar di Provinsi Xinjiang (Hilman/Trans7)


Baca Juga: Halal Food, Etnis Minoritas dan Kebebasan Beragama di China

Sejak pendudukan China pada tahun 1949, Kashgar dan seluruh wilayah dalam Provinsi Xinjiang resmi ada di bawah naungan otonomi China.

Kashgar memang terlihat lebih modern dengan pembangunan di sana sini. Kendaraan bermotor juga berseliweran di mana-mana, menggantikan pedati-pedati tua.

Namun segala gerak warga Uighur diawasi ketat, bahkan saat beribadah. Tim Jazirah Islam menyaksikan saat salat Jumat sudah dekat, tapi suasana di salah satu masjid di salah satu kawasan Gurun Taklamakan masih senyap.

Tidak ada panggilan azan, seperti lazimnya sebuah masjid. Selain itu, ada satu hal yang membuat heran. Ada CCTV atau kamera pengawas terpasang di depan pintu masuk.

Baca Juga: Mendengar Azan di Negeri Komunis

Dan belum lama Tim Jazirah Islam mengambil gambar, beberapa orang melarang untuk melanjutkannya. Tidak ada alasan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya menyuruh kami mematikan kamera.

Usut punya usut, ternyata mereka adalah mata-mata dari kepolisian yang sedang menyamar. Para aparat ini ditugasi mengawasi masjid setiap Jumat.

Tidak lama serombongan aparat lain datang. Informasi tentang kedatangan Tim Jazirah Islam begitu cepat. Dua petugas dari kepolisian datang menghampiri, mereka meminta kelengkapan surat-surat dan mendokumentasikannya dengan telepon seluler.

Untung saja aparat tidak menggelandang tim Jazirah Islam ke kantor polisi. Mereka hanya meminta segera meninggalkan tempat ini.

Bukan hanya gerak tamu yang dibatasi, aparat juga tidak mengizinkan muslim berkumpul di masjid di luar waktu salat. Tidak mengherankan bila semua masjid yang ada di wilayah Kashgar selalu tampak lengang. Sebuah ironi ketika menelusuri kehidupan muslim di kota mayoritas pemeluk Islam.

Jalur Sutra dan Geliat Muslim Uighur di XinjiangKiki Larasati dari tim Jazirah Islam (kanan) bersama perempuan suku Uighur. (Hilman/Trans7)

Bukan hanya masjid, sekolah Islam juga kehilangan nyawa di Kashgar. Tidak ada lagi satu pun madrasah berdiri di sini. Pemerintah mencabut izin berdiri sekolah-sekolah Islam di Kashgar.

Setelah madrasah ditutup, pemerintah kemudian membeli gedung sekolah dan membiarkannya telantar. Hanya sekolah umum yang diperbolehkan berdiri di Kashgar, yang semuanya dikelola oleh pemerintah.

Sekolah pemerintah hanya mengajarkan pengetahuan umum dan tidak ada pelajaran agama. Agama hanya boleh diajarkan di rumah, itu pun dibatasi dengan ketat.

Bahkan murid muslim juga dilarang berpuasa. Warung dan rumah makan wajib buka saat Ramadan. Jika tidak, akan ada sanksi dari aparat.

Saksikan cerita lengkap geliat muslim Uighur di Xinjiang China dalam program "Jazirah Islam" di Trans7 pada Rabu, 17 Mei 2017 pada pukul 15.15 WIB.
(mpr/nwk)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2017
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed