Gulen menceritakan kejadian 17 tahun lalu saat dirinya didatangi Erdogan di Istanbul. Pada tahun 1998 itu, Erdogan meminta saran dirinya untuk mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party). Gulen menyambut baik keinginan Erdogan saat itu, asal menjadi partai Islam yang benar.
"Jadi, dia sudah marah dari dulu sejak 17 tahun lalu," kata Gulen saat ditemui di tempat tinggalnya di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Centre (GGWRC) di Pensylvannia, Amerika Serikat, Minggu (21/8/2016).
Tapi ternyata Erdogan memiliki keinginan lain. Dia ingin dirinya disebut sebagai amirul mukminin dan semua pengikut Gulen yang memang saat itu sudah melakukan gerakan-gerakan pelayanan yang disebut 'hizmet' menyebut hal yang sama. Namun Gulen tidak mau menyebut Erdogan sebagai amirul mukminin.
"Seusai pertemuan dengan saya, Erdogan menceritakan kepada temannya bahwa Hizmet harus dihabisi lebih dulu. Ini yang cerita temannya itu kepada saya," kata Gulen.
Gedung dinding kayu yang ditinggali Gulen di kamp GGWRC |
Menurut Gulen, kebencian Erdogan terhadap gerakan Hizmet dalam taraf yang sangat parah. "Bahkan sepertinya tak ada RS yang bisa menyembuhkannya," ujar Gulen.
Karena itu, pasca kudeta Erdogan menuding Gulen sebagai dalang kudeta berdarah itu. Erdogan juga menangkapi para pengikut Gulen dan memenjarakannya. Buku-buku Gulen dilarang beredar. Media-media yang dibangun pengikut Gulen pun diberangus. Sungguh Turki menjadi negara yang memprihatinkan.
Sebagian buku berbahasa Indonesia karya Gulen yang dipajang di salah satu sudut ruangan milik Gulen. |












































Gedung dinding kayu yang ditinggali Gulen di kamp GGWRC
Sebagian buku berbahasa Indonesia karya Gulen yang dipajang di salah satu sudut ruangan milik Gulen.