Sehari Bersama Fethullah Gulen

Gulen: Erdogan Tidak Suka Sama Saya Sejak Lama

Arifin Asydhad - detikNews
Rabu, 24 Agu 2016 16:02 WIB
Foto: Fethullah Gulen di kamp kediamannya/foto: Arifin Asydhad
Pensylvannia - Dituding sebagai dalang percobaan kudeta pada 16 Juli 2016 lalu oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, ulama kharismatik Turki Fethullah Gulen membantah keras. Dia menyebut Erdogan sudah lama tidak suka terhadap dirinya sejak lama.

Gulen menceritakan kejadian 17 tahun lalu saat dirinya didatangi Erdogan di Istanbul. Pada tahun 1998 itu, Erdogan meminta saran dirinya untuk mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party). Gulen menyambut baik keinginan Erdogan saat itu, asal menjadi partai Islam yang benar.

"Jadi, dia sudah marah dari dulu sejak 17 tahun lalu," kata Gulen saat ditemui di tempat tinggalnya di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Centre (GGWRC) di Pensylvannia, Amerika Serikat, Minggu (21/8/2016).

Tapi ternyata Erdogan memiliki keinginan lain. Dia ingin dirinya disebut sebagai amirul mukminin dan semua pengikut Gulen yang memang saat itu sudah melakukan gerakan-gerakan pelayanan yang disebut 'hizmet' menyebut hal yang sama. Namun Gulen tidak mau menyebut Erdogan sebagai amirul mukminin.

"Seusai pertemuan dengan saya, Erdogan menceritakan kepada temannya bahwa Hizmet harus dihabisi lebih dulu. Ini yang cerita temannya itu kepada saya," kata Gulen.

Gedung dinding kayu yang ditinggali Gulen di kamp GGWRC
Karena itulah, dengan kekuasaannya Erdogan berupaya terus menyingkirkan Gulen dan gerakan Hizmet yang telah berjalan sejak 1970-an itu. Sebelum kudeta terjadi, kata Gulen, Erdogan telah menyebut Hizmet sebagai gerakan terorisme sebagai upaya untuk menutupi dugaan kasus korupsi yang dilakukannya.

Menurut Gulen, kebencian Erdogan terhadap gerakan Hizmet dalam taraf yang sangat parah. "Bahkan sepertinya tak ada RS yang bisa menyembuhkannya," ujar Gulen.

Karena itu, pasca kudeta Erdogan menuding Gulen sebagai dalang kudeta berdarah itu. Erdogan juga menangkapi para pengikut Gulen dan memenjarakannya. Buku-buku Gulen dilarang beredar. Media-media yang dibangun pengikut Gulen pun diberangus. Sungguh Turki menjadi negara yang memprihatinkan.

Sebagian buku berbahasa Indonesia karya Gulen yang dipajang di salah satu sudut ruangan milik Gulen.
Kegiatan-kegiatan pengikut Gulen di luar negeri juga disoal Erdogan. Pemerintah Turki telah mengirimkan permintaan ke negara-negara lain agar menutup sekolah-sekolah yang dikelola pengikut Gulen, termasuk di Indonesia. Namun, pemerintahan negara-negara tersebut, termasuk Indonesia menolak permintaan itu. (asy/fjp)