Curhat Petani Ganja di Aceh, Ditipu Mafia Hingga Dikejar TNI

Agus Setyadi - detikNews
Sabtu, 02 Apr 2016 15:34 WIB
Fauzan (Foto: Agus Setyadi/detikcom)


Pesan Polisi ke Fauzan

Jenderal Badrodin Haiti mengajak masyarakat yang menanam ganja untuk beralih ke tanaman produktif lain. Tanah di kawasan Lamteuba, Aceh Besar, misalnya memang sangat subur. Tanaman palawija sangat mudah hidup di sana. Tidak perlu pupuk.

"Kalau pakai pupuk lagi tanaman di sini tidak bisa berbuah. Karena tanahnya saja sudah sangat subur," kata Fauzan.

Usai 'pensiun' dari petani ganja, Fauzan memilih menanam pisang, kadang kedelai, jagung dan beberapa tanaman lain. Di Aceh Besar, menurut Fauzan, sudah ada 60 orang petani ganja yang memilih alih profesi. Pada tahun 2012 silam, Fauzan membentuk kelompok tani Oisca Lamteuba. Anggotanya hingga kini sudah 25 orang dan dia didapuk sebagai ketua. Mereka mempunyai lahan seluas  15 hektare dan sudah ditanami berbagai tanaman di antaranya pisang, kedelai dan lainnya.

Tapi ada satu keluhan yang disampaikan Fauzan kepada Kapolri. Tanaman mereka sekarang sering diobrak-abrik babi karena tidak memiliki pagar. Akibatnya, hasil panennya selalu tidak sesuai harapan.

"Jagung kadang gagal panen gara-gara babi. Kami butuh bantuan pagar di sini pak," jelasnya.

Upaya mengubah petani ganja agar menanam tanaman produktif lain memang sudah lama dilakukan. Pada tahun 2012 misalnya, saat Kapolda Aceh masih dijabat Irjen Iskandar Hasan, aktif mengajak petani ganja untuk menanam buah naga. Kala itu, ia sepakat dengan Pemerintah Aceh untuk membimbing petani ganja agar mau beralih profesi dan mereka menjadi petani buah naga.

Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil. Kapolri menyebut, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengubah ladang ganja menjadi lahan produktif.

"Di Thailand butuh waktu 20 tahun untuk mengubah ladang yang biasa ditanam untuk narkotika menjadi tanaman yang lain," ungkap Kapolri.

Berdasarkan data ungkap narkoba dalam tiga tahun yang dirilis Polda Aceh, sebanyak 1.305 orang ditangkap pada 2014. Angka itu meningkat pada 2015 yaitu 1.685 orang dan pada 2016 hingga Maret sudah 595 orang dijadikan tersangka. Mereka rata-rata terlibat kasus ganja, sabu-sabu dan ekstasi.

Ironi memang Aceh yang dikenal sebagai provinsi ke 8 dengan tingkat pengguna narkoba terbanyak di Indonesia tapi hingga kini belum memiliki panti rehabilitasi. Kepala Dinas Sosial Aceh, Al Hudri, menyebut, provinsi paling ujung barat Indonesia ini hanya mendapatkan jatah rehab pengguna narkoba sebanyak 10 orang setiap tahun. Para pecandu ini dikirim ke sebuah panti rehab di Sumatera Utara.

"Di Aceh sekarang sudah diperlukan panti rehabilitasi narkoba mengingat banyaknya pengguna narkoba mulai dari usia remaja hingga orang dewasa. Tanah untuk pembangunan panti sudah tersedia seluas 12 hektare di kawasan Aceh Besar," kata Hudri.

Saat bertemu Kapolri di ladang ganja, Hudri menyerahkan sebuah proposal. Isinya, tentang perlunya sebuah panti rehab dibangun di Aceh. Dalam proposal yang diserahkan Al Hudri, Dinsos juga melampirkan sertifikat tanah dan sketsa rencana pembangunan panti.

"Masalah panti jadi bahan kita untuk kita ajukan ke Kemensos dan DPR," kata Kapolri.

Narkoba yang beredar di Aceh kini tidak hanya ganja saja. Barang haram jenis lain pun mulai beredar. Untuk narkotika jenis sabu, rata-rata dipasok dari luar negeri melalui jalur tikus atau pun laut. Kebanyakan datang dari Malaysia. Pengguna sabu-sabu di Aceh rata berusia 14 hingga 65 tahun.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Armensyah Thay, menyebutkan, daerah di Aceh yang banyak beredar sabu mulai dari Kabupaten Pidie hingga kabupaten Aceh Tamiang. Daerah lintas timur ini berdekatan dengan laut. Bahkan di sana juga banyak jalan-jalan tikus yang digunakan para bandar untuk memasok sabu-sabu. Peredaran sabu-sabu pada tahun 2015 di Aceh meningkat luar biasa dibandingkan  tahun 2014. Petugas beberapa kali menangkap bandar dengan barang bukti dalam jumlah besar.

"Peningkatannya sekitar 10 hingga 15 persen," kata Armensyah kepada wartawan Rabu (23/12/2015).

Untuk mencegah peredaran narkoba jenis sabu di Aceh, aparat keamanan harus memperketat pengawasan di jalur darat ataupun laut. Karena hampir semua pantai di wilayah utara Aceh dapat terhubung dengan wilayah lain ataupun Malaysia. Cara kedua yaitu dengan merehab pengguna.

"Jika pintu masuk sudah dicegah dan pengguna dikurangi, tentu kita berharap semakin hari semakin berkurang peredaran narkoba," kata Kapolri.

Di akhir pertemuan dengan Kapolri, Fauzan sempat berkelakar sehingga membuat semua rombongan tertawa. "Sekarang masyarakat di sini (Lamteuba) sudah miskin-miskin pak, karena sudah tidak tanam ganja lagi,"  kata Fauzan sambil tertawa.

Halaman

(rvk/rvk)