Seperti dilansir media setempat, NDTV, Rabu (28/10/2015), selama dua dekade terakhir, Rajendra alias Chhota Rajan (55) melarikan diri dari otoritas berwenang dan juga musuhnya Dawood Ibrahim yang mengerahkan anak buah untuk membuntuti dan membunuhnya. Dawood awalnya merupakan bos Rajendra, namun mereka bertikai dan menjadi musuh abadi.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Dalam Negeri India menyebut Rajendra ditangkap di bandara Bali oleh Kepolisian Indonesia, setelah mendapat red notice dari Interpol. Disebut juga penangkapan ini dibantu Australia yang memberi informasi soal posisi Rajendra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seth (Rajendra-red) merencanakan penangkapannya. Dia menyebarkan jadwal perjalanannya kepada agen-agen (intelijen) India, yang kemudian menyerahkan informasi itu dengan Red Corner Notice pada intelijen Australia yang selanjutnya memperingatkan tim Interpol Indonesia," tutur sumber yang enggan disebut namanya itu kepada NDTV.
Baca juga: 'Gangster' India Ditangkap di Bali
Menurut sumber ini, Rajendra yang tinggal di Newcastle, New South Wales, Australia ini sebenarnya cukup rutin terbang ke Bali untuk mengunjungi hotel milik anak buah kepercayaannya, Anil Chandra. Tidak diketahui sudah berapa lama Rajendra tinggal di Australia.
Rajendra memiliki sejumlah alasan untuk merencanakan penangkapannya ini. Selain karena sudah memasuki usia paruh baya 55 tahun, Rajendra menderita gangguan ginjal dan juga masalah kesehatan lainnya sebagai dampak luka tembak yang dideritanya saat dikejar anak buah Dawood di Bangkok tahun 2000 lalu. Namun masalah lebih besarnya ialah Rajendra mulai ketakutan.
"Anak buah kepercayaan Rajan (Rajendra-red) seperti Santosh Shetty, Anil Chandra dan Bunty Pandey semuanya dideportasi dari negara lain. Rajan rentan menjadi target karena tinggal sendirian. Anak buah Dawood, Chhota Shakeel, bahkan berusaha membunuhnya di Australia pada Juli lalu, tapi agen intelijen India memberi isyarat padanya soal serangan itu setelah menyadap telepon Shakeel," terang sumber kepolisian Mumbai yang enggan disebut namanya.
Baca juga: Catatan Kejahatan Rajendra: Jual Tiket Gelap sampai Bunuh Anggota Parlemen
Saat menginterogasi anak buah Rajendra, polisi India menyadari betapa rapuhnya Rajendra yang selalu merasa terancam di mana pun dia berada. "Rajan sungguh paranoid. Dia membunuh J Dey (wartawan kriminal) karena mencurigainya membantu Shakeel. Rajan membunuh Farid Tanasha, anak buahnya sendiri, atas kecurigaan yang sama," imbuh sumber itu.
"Hidup seperti ini membuatnya kesulitan, kami menyadari hal ini saat menginterogasi anak buahnya. Opsi terbaik untuknya adalah menyerahkan diri dan hidup di dalam penjara di India dan menjalankan aktivitasnya dari dalam," sebut sumber itu. (nvc/mad)











































