Harga Elpiji di Kangean Tembus Rp 110 Ribu

Harga Elpiji di Kangean Tembus Rp 110 Ribu

- detikNews
Kamis, 28 Agu 2008 08:49 WIB
Harga Elpiji di Kangean Tembus Rp 110 Ribu
Sumenep - Warga Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura terpukul kenaikan harga elpiji kali ini. Harga elpiji yang hanya dipatok Rp 69 ribu oleh Pertamina, di Kepulauan Kangean tembus hingga Rp 110 ribu/tabung isi 12 kilo.

Para pengguna elpiji pun terpaksa beralih memakai kayu bakar. Sebab, selain harga elpiji tidak terjangkau juga sulit dicari di pasaran. Bahkan, minyak tanah yang merupakan pilihan alternatif ikut langka. Kalaupun ada stok, minyak tanah dipatok di kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu di tingkat pengecer.

Salah seorang warga Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep, Ny Homsiyah (45) mengatakan, harga elpiji tak terjangkau oleh warga Kepulauan Kangean.

"Susah mendapatkan elpiji, Mas!. Apalagi, harganya melambung. Ya terpaksa memakai kayu bakar untuk keperluan memasak," ujar Homsiyah kepada detiksurabaya.com saat dihubungi, Kamis (28/8/2008).

Menggunakan kayu bakar, dinilai sangat irit. Satu ikat kayu bakar hanya dipatok Rp 7 ribu dan dapat dipakai selama 12 hari. "Kalau kayu bakar di Pulau Kangean ini sangat mudah mendapatkan. Karena banyak warga yang masih menjual," katanya.

Sementara warga yang ada di Kecamatan Sapeken dan Kangayan Kepulauan Kangean, Sumenep juga banyak beralih menggunakan kayu bakar. Para ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan sulitnya mendapatkan elpiji.

Seorang warga Desa Kolo-Kolo, Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, A Rahman mengatakan, warga desa yang biasa memakai minyak tanah untuk memasak, kini juga berpindah memakai kayu bakar. Sebab, minyak tanah juga mulai langka di pasaran.

"Kalau di Pulau Kangean bukan hanya elpiji yang sulit didapat, tapi minyak tanah juga sama," kata Rahman.

Warga desa mayoritas memakai minyak tanah untuk keperluan memasak dan lampu teplok, tapi sejak sepekan terakhir mulai sulit mendapat minyak tanah, sehingga warga lebih banyak menggunakan kayu bakar.

Kabag Perekonomian Pemkab Sumenep, Achmad Sadik mengakui jika kebutuhan BBM, baik bensin, solar dan minyak tanah serta jenis lainnya sangat tinggi sejak sebulan terakhir.

"Kebutuhan BBM di kepulauan memang lebih banyak dipantau. Sebab, kebutuhan mulai meningkat tajam," kata Sadik. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini