Mereka memetik biji kopi, dikeringkan dan ditumbuk hingga menjadi bubuk. Hasilnya, bubuk kopi itu dijual ke warung-warung. Tak hanya petani cabe saja melakukan hal ini. Puluhan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar pun melakukan hal yang sama. Demi mendapatkan uang untuk membantu orangtuanya.
Seperti yang dilakukan bocah kelas IV SDN 4 Ngenep, Karangploso, Malang, Bagus Suryawan (11). Dia rela memanjat pohon kopi untuk memetik biji yang tersisa dari masa panen usai pulang sekolah.
"Setiap pulang sekolah dari pada di rumah tidak ada kegiatan, lebih baik di sini memetik sisa biji kopi yang ada. Dan hasilnya bisa dijual," kata Bagus kepada detiksurabaya.com saat asyik memetik biji kopi di ladang milik warga, Sabtu (16/8/2008).
Rupanya tak hanya Bagus yang melakukan hal tersebut. Teman-teman sebayanya pun memetik biji kopi di ladang kopi milik petani lain. Seperti alasan yang diungkapkan Sri Yulandari (11), bocah yang masih satu sekolah dengan Bagus ini mengaku mencari sisa biji kopi untuk dibawa pulang.
Dirinya mengaku tak takut memanjat pohon kopi yang mencapai 2 meter. Dengan bermodal tas keranjang plastik mereka memilih dan memisahkan biji kopi dari batang pohon.
"Setelah dipetik ini, ibu yang akan mengurus dengan menjemur di halaman rumah," ungkap Yulandari.
Menurut sebagian warga sekitar, mencari sisa biji kopi ini tak harus izin terlebih dulu ke pemilik lahan. Karena masa memanen biji kopi sudah dilakukan dan usai.
"Tidak ada yang marah Mas, ini kan biji sisa panen. Jadi ya sudah biasa," ujar Nurhasanah, orang tua Bagus kepada detiksurabaya.com.
Nurhasanah menjelaskan, setelah mengumpulkan biji kopi ini dirinya akan menjemur hingga kering. Kemudian biji kopi kering akan ditumbuk sampai menjadi bubuk. Bubuk itulah yang akan dijual para warga guna menambah pendapatan. "Sekilo sekitar Rp 16 ribu," imbuhnya. (fat/fat)










































