Puluhan Petani Ngelurug Pabrik Pengeringan Tembakau

Puluhan Petani Ngelurug Pabrik Pengeringan Tembakau

- detikNews
Senin, 04 Agu 2008 12:53 WIB
Bojonegoro - Pabrik pengeringan (redriying) tembakau milik Koperasi Karyawan Redriying Bojonegoro (Kareb) digeruduk belasan petani dari dua. Pabrik yang terletak di Jalan Basuki Rahmat No 17 itu dituding membuang limbah sembarangan hingga mencemari sawah seluas 7 hektar di dua desa.

Petani Desa Ngampel Kecamatan Kapas dan Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro gempar, gara-gara saluran air sungai dekat persawahan mereka bercampur dengan minyak berwarna pekat. Mereka terpaksa mengurungkan niat untuk mengaliri sawah dengan air irigasi yang tercemar itu.

"Air sungai tidak mungkin bisa dipakai ke sawah. Kalau airnya tercemar pasti tanaman akan mati. Ini pasti saluran pembuangan limbah redriying bocor," kata Ketua Kelompok Tani Sukorejo, Suroso saat berunjuk rasa di gudang redrying Koperasi Kareb, Senin (4/8/2008).

Pencemaran air sungai akibat limbah pabrik pengolahan rokok tersebut kerap terjadi. Namun keluhan petani tidak pernah ditanggapi oleh Koperasi Kareb. Petani mengancam akan menjebol saluran limbah jika pencemaran air ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan serius.

"Tidak mungkin kalau tidak disengaja. Sebab limbahnya dibuang diam-diam pas malam hari dan baru diketahui petani tadi pagi. Kalau kebocoran tidak cepat ditangani maka kami akan menggempur got limbah redrying," ancam Suroso setelah pengaduannya diterima oleh pimpinan Koperasi Kareb.

Menanggapi protes tersebut, Kabag SDM dan Umum Koperasi Kareb, Adi Wasito mengakui bahwa limbah minyak itu berasal dari pabriknya. Namun dia membantah jika pembuangan limbah itu dilakukan sembarangan dan bisa mencemari lingkungan.

"Ya kami akui itu dari redriying. Bisa karena tetesan minyak solar, diesel atau residu. Tapi kami tidak sengaja membuang dan tidak mungkin akan mencemari lingkungan," bantah Adi Wasito.

Sayang, Adi Wasito terkesan tidak serius menanggapi tuntutan ganti rugi yang diajukan petani. Alasannya, petani belum mengalami kerugian akibat kebocoran limbah. Sebab tanaman padi yang berusia sekitar 1,5 bulan itu masih tampak hijau dan sehat.

"Kita akan lihat nanti di lapangan. Kerugiannya kan belum tahu. Itu hanya minyak yang menetes saja, tidak sampai merusak tanaman," dalih Adi Wasito.

Selain persoalan pencemaran air, warga sekitar sering memprotes pencemaran udara yang ditimbulkan oleh perusahaan pengolahan tembakau itu. Bau tembakau terasa sangat menyengat dan membuat sesak nafas bahkan sampai radius 1 km. (fat/fat)
Berita Terkait