Memasuki musim tebang dan giling tebu di sejumlah PG di Situbondo, masyarakat mulai memanfaatkan blothong sebagai pengganti minyak tanah (minah).
Dengan menggunakan blothong, masyarakat bisa berhemat puluhan ribu rupiah jika dibanding dengan penggunaan minah yang kini harganya mencapai Rp 3 ribu per liter dan terkadang sulit didapatkan.
Kini di sejumlah kawasan yang berdekatan dengan lokasi pabrik gula, seperti PG Wringin Anom, PG Olean, PG Panji dan PG Asembagus, mulai marak masyarakat yang memproduksi blothong secara massal. Ada yang sekadar memenuhi kebutuhan masak sendiri. Atau tak jarang mengelola limbah gilingan tebu itu untuk tujuan dijual.
Caranya cukup mudah. Warga yang berminat tinggal memesan saja kepada karyawan pabrik gula yang bertugas membuang limbah. Dengan mengganti ongkos transport sebesar Rp 15 ribu untuk setiap truk, blothong basah sudah sampai di tempat.
"Setiap truk onthok basah akan kita bentuk menjadi bulatan sebesar bola ukuran sedang atau dalam bentuk persegi. Setelah dijemur selama seminggu maka blothong yang sudah kering siap untuk digunakan sebagai bahan bakar kebutuhan rumah tangga pengganti minyak tanah," ungkap Samiyatun (46), warga Desa Juglangan, Kecamatan Panji kepada detiksurabaya.com, Jumat (30/5/2008).
Samiyatun memang tercatat dikenal sebagai pedagang onthok musiman selama musim giling tebu. Kini dia terpaksa menaikkan harga per karung blothongnya, yang tahun lalu dipatoknya seharga Rp 5 ribu per karung kini menjadi Rp 7.500 per karung.
"Kan BBM sudah naik Pak. Angkutan blothong dari pabrik gula juga dinaikkan dari semula cuma Rp 10 ribu per truk kini sudah Rp 15 ribu sudah sampai di tempat," ucap nenek dengan 3 orang cucu ini.
Senada dengan Samiyatun, harga per karung blothong yang dijual oleh Ny Ririn (28) warga Desa Tenggir, Kecamatan Panji justru hanya menaikkan harga blotongnya per karung Rp 1.000 saja.
"Kasihan, Mas. Semua kebutuhan hidup sekarang memang naik. Tapi saya tidak terlalu mahal menaikkan harga per karung onthok. Cukup Rp 5 ribu saja per karung, karena musim lalu sudah Rp 4 ribu per karung," akunya.
Bersama puteri tertuanya, Ny Ririn mulai mencetak blothong basah dengan cara dikepal-kepal layaknya buat onde-onde sejak pukul 09.00 WIB. Siang harinya sudah siap menjemur seluruh cetakan blothongnya dan tinggal menunggu pembeli datang.
"Untuk memasak nasi dan segala macam lauk maupun sayuran, cukup dibutuhkan 4 buah blothong kering. Bara yang dikeluarkan oleh onthok itu tidak kalah dengan gas LPG yang biasa dipakai ibu rumah tangga kaya. Kalau kami sebagai warga miskin, ya beli sekarung blothong bisa untuk memasak seminggu. Hemat kan dari pada harus beli minah yang mahal dan harus antre pula," aku Jumariyah (45), seorang ibu rumah tangga asal Desa Olean. (fat/fat)











































