Aksi itu diwarnai dengan perobohan pintu gerbang Kantor Bupati Jember. Sebab, para pendemo tidak ditemui oleh Bupati Jember, MZA Djalal. Para pendemo menginginkan agar MZA Djalal turut menandatangi petisi menolak kenaikan harga BBM. Namun bupati tidak ada di kantornya.
Aksi dilanjutkan dengan pemblokiran sejumlah ruas jalan utama di Kabupaten Jember. Mereka menutup perempatan dan pertigaan menuju kota Jember dengan mobil angkutan umum atau yang biasa disebut lyn.
Pertigaan atau perempatan yang ditutup antara lain perempatan Mastrip, Jembatan Gladak Kembar, dan Jalan Sultan Agung. Ratusan sopir lyn yang mogok kerja dengan ikut demonstrasi. Mobil angkutan kota itu diparkir dengan rapi di depan kantor pendopo (rumah dinas bupati Jember).
"Kami menuntut BBM tidak dinaikkan, jika dinaikkan SBY-JK lebih baik mundur. Saat ini banyak sekali kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat," ujar salah satu pendemo, Affifudin.
Selain menolak kenaikan harga BBM, para pendemo juga menuntut pemerintah
menasionalisasi aset-aset nasional yang dikuasai asing dan merevisi UU Migas serta mengoptimalkan sumber energi alternatif.
Aksi mahasiswa dan sopir lyn itu otomatis membuat sejumlah ruas jalan di Kabupaten Jember macet total. Polisi dan petugas dari Dinas Perhubungan Jember mengatur lalu lintas agar kemacetan berkurang.
(gik/gik)











































