Mundurnya Bos Intelijen AS dan Cerita Cekcok dengan Trump soal Perang Iran

Mundurnya Bos Intelijen AS dan Cerita Cekcok dengan Trump soal Perang Iran

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2026 21:30 WIB
(FILES) US President Donald Trump shakes hands with Tulsi Gabbard after she was sworn in as Director of National Intelligence (DNI) in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on February 12, 2025. US President Donald Trump hailed intell
Foto: Presiden Donald Trump jabat tangan Tulsi Gabbard usai melantik Gabbard menjadi Direktur Intelijen Nasional AS di Gedung Putih. (AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
Jakarta -

Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) Tulsi Gabbard mengundurkan diri dari jabatannya. Gabbard beralasan kondisi kesehatan suami yang menjadi penyebab.

Diketahui suami Gabbard menderita kanker tulang yang sangat langka. Namun di tengah keputusan tersebut, santer beredar kabar Gabbard mendapat tekanan dari Gedung Putih untuk melepas jabatannya.

Pengunduran diri Gabbard diumumkan pada Jumat (22/5/2026) waktu setempat. Diketahui ia sempat berselisih dengan Presiden Donald Trump perihal perang negaranya dan Israel melawan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fox News melaporkan mantan anggota Kongres AS dari Partai Demokrat ini melaporkan keputusannya mundur dari jabatan pada Trump dalam pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih. Gabbard menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional AS sejak 2025 lalu.

Keputusan Gabbard berlaku efektif mulai 30 Juni mendatang. Gabbard mengatakan dirinya mundur untuk merawat sang suami, Abraham Williams, dalam suratnya kepada Trump yang diunggah ke media sosial X.

"Dia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya melalui perjuangan ini," kata Gabbard merujuk pada suaminya.

Gabbard menikahi Williams, yang berprofesi sebagai sinematografer di Hawaii, dalam upacara Hindu. Keduanya bertemu saat syuting iklan kampanye, dan suami Gabbard melamarnya saat berselancar ketika matahari terbenam.

Gabbard menjadi pejabat wanita keempat yang meninggalkan kabinet Trump dalam beberapa bulan terakhir. Trump telah memecat Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem pada Maret dan Jaksa Agung AS Pam Bondi pada April. Sementara Menteri Tenaga Kerja AS Lori Chavez-DeRemer mundur dari jabatannya pada April di tengah serangkaian skandal.

Trump Apresiasi Kinerja Gabbard Selama Menjabat

US representative Tulsi Gabbard (D-HI), 35, was a member of the Hawaii National Guard and was deployed to Iraq in 2005 (AFP Photo/Aaron P. Bernstein) Foto: Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) Tulsi Gabbard. (AFP Photo/Aaron P. Bernstein)
Sementara itu Presiden Trump mengapresiasi kinerja Gabbard selama menjabat Direktur Intelijen Nasional AS. Bagi Trump, tugas yang diemban Gabbard luar biasa.

"Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kita akan merindukannya," ucap Trump dalam pernyataan via Truth Social.

Gabbard bertugas mengkoordinir informasi dari jaringan luas yang mencakup 18 badan intelijen AS. Informasi yang dihimpun Gabbard digunakan untuk pengarahan harian Presiden Trump.

Tak hanya memuji kinerja Gabbard, Trump juga menyebut Keputusan Gabbard mundur demi merawat suaminya adalah tepat. Mengisi kekosongan jabatan Direktur Intelijen Nasional AS, wakil Gabbard, Aaron Lukas, akan mengisi sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

Dikutip dari Reuters, rumor miring mundurnya Gabbard diungkap seorang sumber. Namun Gedung Putih dengan cepat membantah rumor semacam itu.

"Ini keliru. Suaminya, yang merupakan manusia yang luar biasa, telah didiagnosis menderita kanker tulang yang langka," ujar kepala staf Gabbard, Alexa Kenning, dalam pernyataan via media sosial X.

Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menegaskan, "Setiap anggapan bahwa Gedung Putih memaksanya untuk mengundurkan diri karena kesehatan suaminya adalah fitnah."

Selama karier politik Gabbard di Kongres AS, Gabbard memposisikan diri sebagai seseorang yang anti-intervensiois yang menentang perang atau intervensi militer AS di luar negeri. Hal ini menciptakan ketegangan setelah Trump memutuskan untuk menyerang Iran pada akhir Februari lalu.

Gabbard dilaporkan tidak hadir ketika Trump berkonsultasi dengan para penasihat utamanya menjelang peluncuran serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Gabbard Sempat Menghindari Pernyataan Dukung Perang

An AH-1Z Viper from the 11th Marine Expeditionary Unit (MEU) prepares for take-off aboard the amphibious assault ship USS Boxer (LHD 4) as it transits the Strait of Hormuz. (File Photo: Reuters) Foto: Helikopter militer dari Unit Ekspedisi Marinir AS bersiap lepas landas dari kapal perang USS Boxer. (dok. Reuters)
Setelah perang AS-Israel melawan Iran meletus, Gabbard menghindari untuk menyatakan dukungan secara publik terhadap keputusan Trump tersebut. Dalam sidang Kongres pada Maret lalu, Gabbard secara hati-hati menghindari pertanyaan soal apakah pemerintah mengetahui potensi dampak dari perang tersebut.

Tidak hanya itu, Gabbard juga menolak untuk mendukung klaim Trump soal Iran memberikan ancaman yang nyata. Soal Iran adalah ancaman merupakan dasar AS untuk membenarkan serangan terhadap Teheran.

Gabbard juga mengatakan intelijen AS telah menyimpulkan Iran tak membangun kembali kapasitas pengayaan nuklir yang dihancurkan oleh pengeboman AS-Israel tahun lalu. Diketahui Trump menuding Iran terkait pembangunan kekuatan nuklir, yang juga dijadikan pembenaran perang tersebut.

Tahun lalu, seperti dilansir BBC, Trump tampak mengabaikan pernyataan Gabbard di hadapan Kongres AS soal Iran tidak berupaya membangun senjata nuklir.

"Saya tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Saya pikir mereka (Iran-red) sangat dekat untuk memiliki senjata," kata Trump kepada wartawan saat itu. Trump telah berulang kali menyebut kemampuan nuklir Iran sebagai alasan perang AS melawan Iran.

Pengunduran diri Gabbard ini terjadi dua bulan setelah penasihat utamanya, mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Joe Kent, meninggalkan pemerintahan Trump karena perang Iran. Kent mendesak Trump untuk 'mengubah arah'.

Setelah Kent mundur, Gabbard secara terbuka mendukung keputusan Trump soal operasi militer di Iran, dengan mengatakan bahwa sebagai panglima tertinggi, Trump bertanggung jawab untuk menentukan apa yang merupakan ancaman langsung dan apa yang bukan.

Halaman 2 dari 3
(aud/aud)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini