Di depan gedung DPRD Kota Malang, mahasiswa yang tergabung dalam gerakan mahasiswa pembebasan Malang ini mendesak pemerintah membatalkan rencana menaikkan harga BBM. Mereka menilai kenaikan harga BBM hanya akan semakin menyengsarakan rakyat miskin.
"Harga BBM naik hingga 30 persen itu, justru akan memicu inflasi, kenaikan harga pokok dan rakyat miskin akan semakin bertambah," kata humas aksi Dwi Wahyudi saat berorasi di hadapan para demonstran. Dia menyebutkan berdasar analisa sejumlah
ekonom di negeri ini, kenaikan harga BBM akan menaikkan inflasi sebanyak 11 persen. Inflasi ini jelas menyengsarakan rakyat miskin.
Dia juga menilai tidak selayaknya pemerintah menaikkan harga BBM, sebab tidsak semua BBM hasil impor sehingga subsidi yang harus dikeluarkan tidak terlalu banyak. Untuk itu, pemerintah perlu bertindak tegas menaikkan produksi minyak dalam negeri dan menyerahkan produksi minyak kepada perusahaan dalam negeri.
"Selama puluhan tahun, sejak orde baru kita selalu tunduk pada perusahaan pertamabahan asal Inggris dan Amerika. Percayakanlah kepada perusahaan anak bangsa," tegasnya.
Dwi menambahkan kompesasi kenaikan harga BBM melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak tepat sasaran. Hal itu tidak menyelesaikan persoalan yang dihadapi rakyat miskin.
"Mereka butuh kail, bukan ikan. Pemerintah harus belajar dari pengalaman sebelumnya," jelasnya. Apalagi, selama ini dana kompensasi juga diduga banyak diselewengkan seperti kasus Asuransi kesehatan Raykat Miskin (Askeskin). (bdh/bdh)











































