Benda bersejarah tersebut berbentuk batu yang menyerupai lesung dengan lubang di tengahnya. Tak jauh dari benda tersebut, juga ditemukan sebuah alat penumbuk yang telah terpecah.
Kedua benda itu ditemukan oleh Supriono (55) warga desa setempat saat melakukan penggalian tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata.
"Pas macul lemah meniko kok natap kados watu ngoten, lajeng kulo duduk alon-alon kok ketingal wonten watu meniko. (Ketika saya gali tanah ini alat gali saya membentur benda seperti batu, terus saya gali pelan-pelan ada batu ini)," kata Supriono ketika menunjukkan lokasi penemuan benda bersejarah tersebut, Minggu (23/3/2008).
Bukan hanya lesung dengan alat tumbuk yang ditemukan oleh Supriono, namun sebuah benda menyerupai tempayan tumpuk yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan pertama. Namun sayang, benda menyerupai tempayan tumpuk tersebut sudah dalam kondisi pecah sehingga sulit untuk dikenali.
"Nggih niki terusane kulo nduduk panggenan ingkang sepindah. Mboten tebih, namong sekitar 100 meter. (Ya ini lanjutan dari lokasi penggalian saya yang pertama, tidak jauh jaraknya hanya sekitar 100 meter)," imbuh Supriono.
Supriono mengaku telah melaporkan benda temuannya tersebut kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal (BP3) di Trowulan, Mojokerto.
Ketika ditanya mengenai keyakinanya jika benda temuannya peninggalan bersejarah, Supriono mengaku juga menemukan benda bersejarah serupa di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah.
"Kan mboten tebih to Mas saking Tondowongso, malah menawi meniko tasik sak jalur. (Kan tidak jauh Mas dari Tondowongso, mungkin ini masih satu jalur dengan lokasi tersebut)," ujarnya.
Supriono juga menyakini temuannya tersebut merupakan sebuah Lingga Yoni peninggalan masa Kerajaan Majapahit yang merupakan lambang kesuburan. (fat/fat)











































