Jenazah siswa kelas 2 SMA Lukman Hakim Surabaya itu ditemukan tengkurap, dua kilometer ke arah barat dari lokasi kejadian saat terseret arus yakni, di bantaran Sungai Sampean Kelurahan Patokan.
Penemuan jenazah itu diketahui oleh Rekiyanto (42), warga Desa Wringin Anom Situbondo. Saat itu dirinya hendak buang hajat ke aliran sungai yang hingga kini masih deras.
Melihat sosok mayat mengambang, spontan bapak tiga anak itu berteriak dan menarik perhatian warga.
"Awalnya memang saya tidak sengaja mengetahui itu, sebab semula saya kira gedebok atau balok kayu yang hanyut terbawa arus. Namun setelah beberapa saat saya amati kok ada bagian tubuh yang menyembul, langsung saja saya berteriak," ucap Rekiyanto, kepada detiksurabaya.com di lokasi penemuan mayat korban Desa Wringin Anom.
Semula tak ada satupun warga yang berani mendekati mayat korban yang ditemukan mengapung. Akhirnya Rekiyanto memberanikan diri untuk mencebur aliran sungai dan diikuti oleh warga lainnya.
Beberapa saat setelah jenazah berhasil dievakuasi, jenazah pun dibawa ke kamar jenazah RSUD Situbondo dan menjalani pemeriksaan. Dan beberapa rekan korban terlihat memadati kamar mayat untuk mengenali lebih jauh jenazah temannya.
Sebelumnya, sekitar 35 orang relawan dari BMH Surabaya melakukan bakti sosial di Situbondo, Jumat (16/2/2008). Mereka terdiri dari siswa sekolah swasta di Surabaya, SMP dan SMA Lukman Hakim serta mahasiswa di Surabaya. Para relawan BMH itu langsung bergabung dengan para relawan dari Ponpes Al-Amin Situbondo.
Namun saat sedang mencuci, Firmansyah terpeleset sekitar pukul 15.30 WIB, Minggu (17/2/2008). Dia pun terbawa dan terseret aliran Sungai Sampean, di Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo, Jatim. (fat/fat)











































