"Hujan terus terjadi di puncak Semeru kemarin. Air dari puncak membawa lumpur, batu dan kayu. Ini membahayakan," kata Arifin salah satu petugas Pengawas Gunung Semeru, Lumajang, kepada detiksurabaya.com, Sabtu (16/2/2008).
Menurut Arifin, penambahan debit air dari Gunung Semeru ini melewati Kali Besuk Kobokan, Kali Besuk Bang dan Kali Besuk Sat mulai tadi malam. Sehingga warga desa Besuk Kobokan yang akan menuju Desa Supit Urang terputus. Untuk itu, warga sekitar
diharapkan waspada jika ada penambahan volume air.
Dia menambahkan, jika hujan terus terjadi seperti kemarin hingga 3 jam berpotensi lahar dingin. Untuk menangulangi terjadinya lahar dingin, pihak Balai Pengawasan Gunung Semeru terus memantau bekerja sama dengan Satlak dan Binmas. Namun yang rawan terjadinya lahar dingin di sekitar aliran Kali Bang di Pronojiwo.
"Kami selalu berkoordinasi dengan petugas setiap hujan lebat mengguyur. Apalagi dengan petugas di Desuk Sat yang suatu saat bisa memutuskan jalur Lumajang Malang di Pronojiwo," ungkapnya.
Sementara itu meningkatnya debit air sungai aliran Gunung Semeru membuat penambang pasir dan pencari kayu menghentikan aktivitasnya.
"Penambang pasir dan pencari kayu di bantaran aliran dari Gunung Semeru untuk menghentikan aktivitasnya sejenak. Karena puncak gunung masih diselimuti oleh awan tebal," jelasnya.
Pantauan detiksurabaya.com, Sabtu (16/2/2008). Para penambang pasir di Desa Klopo Sawit tampak duduk di pinggir aliran sungai. Sesekali mereka melambaikan tangan untuk menolak truk pasir yang datang.
Menurut salah satu penambang pasir, Sukiran (30) mengaku dirinya menghentikan menambang pasir sejak hujan menguyur kemarin siang. "Pokoknya kalau air berwarna keruh dan debitnya bertambah, tidak ada yang berani mengambil pasir," jelasnya.
Sebagian penambang pasir mengalihkan aktivitasnya menjadi buruh tani atau pencari kayu. Hal ini dilakukan agar penghasilan sehari-hari untuk keluarga tetap terpenuhi.
(fat/fat)











































