Bila banjir memporak-porandakan rumah dan membawa harta benda milik warga yang terseret arus di aliran Sungai Sampeyan, justru pemulung dan nelayan yang mendapatkan keuntungan.
Harta benda itulah yang kini banyak muncul di permukaan laut di sejumlah perkampungan pesisir nelayan. Antara lain di Perairan Panarukan, Pelabuhan Kalbut serta Perairan Tanjung Kamal di Kecamatan Mangaran.
Beberapa nelayan mengaku dalam sehari bisa membawa pulang hasil temuan barang di laut. Seperti lemari, kasur, sofa, kursi, televisi, brankas dan perabotan rumah tangga lainnya.
"Sehari kemarin saja, saya dan teman-teman berhasil menemukan 2 lemari dan 5 kursi di Perairan Pantai Panarukan tak jauh dekat muara. Lumayanlah, dari pada saat ini kami tidak bisa melaut karena cuaca dan gelombang besar, kan lebih baik mengais sisa bajir bandang di laut," ucap Samian (36), salah satu nelayan asal Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, saat ditemui detiksurabaya.com, Kamis (14/2/2008).
Hal yang sama juga dialami oleh warga nelayan di sekitar Pelabuhan Kalbut, Kecamatan Mangaran, yang mendadak beralih 'profesi' menjadi pemulung mengais barang-barang yang terseret banjir bandang di sekitar pelabuhan setempat.
Bahkan salah seorang nelayan bernama, Sukarto (45), sempat menemukan sebuah lemari yang di dalamnya terdapat sebuah tas lengkap dengan uang tunai ratusan juta.
"Kami memang prihatin atas musibah banjir bandang, namun juga memberi berkah bagi warga nelayan di sini. Angin kencang dan ombak besar yang memaksa kita tak bisa melaut, justru ada limpahan rezeki dari mencari sisa-sisa barang yang ikut terseret banjir ke laut," ucap nelayan beranak dua itu.
Rezeki nomplok pun dialami oleh pemulung. Mereka mendapatkan lebih banyak rongsokan barang bekas banjir bandang yang dijualnya kepada para pengepul.
"Kita tidak perlu susah-susah lagi cari barang bekas gratis. Berbagai jenis barang rongsokan sangat mudah kami dapatkan di pinggir-pinggir jalan di lokasi
banjir bandang. Seperti Capore, Patokan dan Sumberkolak. Pemiliknya sengaja membuang barangnya yang sudah rusak karena tertimbun lumpur," kata Sujai (52), salah seorang pemulung.
Meski barang rongsokan yang didapat para pemulung lebih melimpah dibanding hari-hari biasa, namun harga jual ke pengepul juga mendadak turun drastis. Pasalnya,
pascabencana banjir bandang gudang-gudang pengepul besi tua dan barang rongsokan sudah tidak muat lagi menampung hasil pembelian.
"Kalau perlu saat ini mending kita tolak dulu, Pak. Sudah banyak di gudang hasil banjir bandang," kata Yulianto (27) pengepul besi tua di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan. (fat/fat)











































