"Kita tidak perlu pesimis meski rencana pembangunan kekuatan pada TNI-AL terkendala oleh minimnya anggaran," katanya usai menyaksikan latihan tempur marinir di Taman Baluran Situbondo Jawa Timur kepada wartawan, Sabtu (2/2/2008).
Menurut Djoko, pembangunan kekuatan di TNI AL yakni, bukan dari pembelian peralatan saja. Namun juga pembangunan sumber daya manusia (SDM). "Memang saat perang yang diperlukan adalah senjata. Namun untuk meraih kemenangan dibutuhkan SDM atau kualitas manusianya," katanya.
Panglima juga menjanjikan bahwa peralatan tempur secara bertahap akan diganti dengan yang baru. Senjata yang dimiliki oleh TNI-AL yang sudah berusia 30 tahun akan dievaluasi. "Apakah layak digunakan dan dipertahankan atau tidak. Tapi kita tetap mengusahakan untuk pembelian alat baru," tegasnya.
Seperti yang sudah dilakukan saat ini yakni, pembelian kapal perang dari Belanda yakni KRI Hasanudin. Kapal baru ini kondisinya kosongan, belum dilengkapi persenjataan.
"Tapi dalam waktu dekat akan dilengkapi. Sementara itu untuk pemeliharaannya sudah mengalokasikan ke APBN," tambahnya. (fat/fat)











































