Kekejaman PKI di Madiun (3)
Sebar Pengaruh Hingga G30S
Senin, 01 Okt 2007 10:12 WIB
Madiun - PKI memberontak pada 18 September 1948 karena merasa kuat. Namun mereka dipukul mundur hingga melarikan diri ke Wonogiri. PKI yang selamat terus menyebarkan pengaruh lalu terjadilah pemberontakan PKI dengan G30S-nya tahun 1965.Merasa kekuataan dan kekuasaannya sudah cukup, maka 18 September 1948, PKI akhirnya memaksa untuk mengadakan pemberontakan di berbagai daerah. Mereka terus memburu pasukan TNI, CPM dan polisi."Tanggal 19 September 1948, Markas Staf Pertahanan Jawa Timur akhirnya dilumpuhkan. Sebagian anggotanya tewas, sementara sisanya yang masih hidup namun dijadikan tawanan PKI," ungkap Muslich Rizza (81), saksi peristiwa PKI Madiun kepada detiksurabaya.com, Senin (1/10/2007).Lebih lanjut, ia mengatakan, monumen Kresek hanyalah salah satu saksi kekejaman PKI di Madiun. Saat itu, hanyalah sebuah wilayah perkampungan yang terletak di kaki Gunung Wilis dan oleh PKI dijadikan ldang pembantaian tokoh masyarakat dan agama. Di dalam monumen itu, terdapat patung dan beberapa replika kejadian pembantaian yang dilengkapi pendopo rumah milik Sumo Radjimin yang saat itu digunakan sebagai jagal ratusan jiwa manusia. Selain itu, replika pelajar yang menunjukkan ke generasi muda sejarah kelam atas kekejaman PKI di tempat tersebut. "Ketika itu, kami tidak tahu mengapa basis perjuangan PKI yang awalnya bermarkas di Solo lalu pindah ke wilayah Madiun dan sekitarnya," ujarnya. Menurutnya, monumen Kresek kini menjadi saksi bisu yang menyimpan banyak kisah piluh keganasan PKI waktu itu. Catatan sejarah, ratusan nyawa manusia melayang ketika peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948. Di Desa Kresek inilah pasukan PKI pimpinan Amir Muso terus melakukan penawanan hingga pembantaian massal kepada rakyat tak berdosa itu. Keganasan PKI, membuat Presiden Soekarno (Bung Karno) menunjuk Kolonel Sungkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur untuk membasmi gerakan PKI dari arah Timur. Sedangkan pasukan dari Kodam Siliwangi yang telah dipersiapkan untuk membasmi PKI itu, diberangkatkan dari arah barat dan dipimpim langsung oleh Kolonel Sadikin. "Tugas itu, sebagai tindak lanjut pernyataan Presiden Soekarno bahwa negara dalam keadaan bahaya," ujar Muslich.Menurutnya, kalimat itulah yang menjadi pemicu rakyat untuk berjuang melawan keganasan PKI yaitu melalui berbagai organisasi masyarakat (ormas) yakni Hisbullah, Sabilillah, GPII, pasukan TRIP, TGP dan lainnya. Dalam hitungan hari, pasukan PKI berhasil dipukul mundur dari Madiun. Saat itu gerakan PKI melakukan pelarian ke Wonogiri-Jawa Tengah. Amir Muso dikabarkan tewas saat baku tembak dengan pasukan TNI di wilayah perbatasan Ponorogo-Wonogiri. Sedangkan pengikutnya, sebagian melarikan diri ke arah barat kawasan hutan Wonogiri. "PKI yang selamat, terus menyebarkan pengaruhnya ke setiap kota yang singgahi hingga menjadi besar dan berhasil melaksanakan gerakan 30 September 1965," tandasnya.
(mar/mar)











































