Fakta-fakta dalam Kasus Anak Kiai di Jombang Cabuli Santriwati

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 14:23 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Foto: Andhika Akbarayansyah
Surabaya - Penanganan kasus dugaan pencabulan anak kiai di Jombang, MSAT terhadap santriwati terus bergulir. Polisi menangani kasus itu sejak dua tahun lalu.

Sebelumnya, MSAT warga Kecamatan Ploso, Jombang dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan anak di bawah umur pada awal Desember 2019. Kasus ini dilaporkan ke Polres Jombang dan kemudian ditarik untuk ditangani Ditreskrimum Polda Jatim.

Berikut fakta-fakta dalam kasus itu yang dihimpun detikcom:

1. Berkas Kasus Sempat 7 Kali Dikembalikan Kejaksaan

Berkas kasus dugaan pencabulan MSAT ternyata sempat ditolak jaksa hingga tujuh kali. Polisi menilai itu yang membuat penanganan kasus jadi lambat.

Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim Kompol Hendra Eka Triyulianto sempat mempertanyakan sikap kejaksaan. Hendra lalu membandingkan kasus serupa dengan yang terjadi di Bandung, yang terkesan cepat rampung.

"Ini kan lagi ramai-ramainya (kasus pencabulan di pesantren) tapi kenapa kok cuma di Jawa Timur ini saja. Di Jabar (kasus Herry Wirawan) ini kok cepat P21-nya. Kok ini sampai tujuh kali (ditolak)," ujar Hendra di Surabaya, Jumat (17/12/2021).

Menjawab hal ini, Kasi Penkum Kejati Jatim Fathur Rohman membeberkan alasan mengapa berkas tersebut berkali-kali ditolak. Menurutnya, berkas ini dikembalikan karena penyidik kepolisian belum bisa memenuhi petunjuk P-19 dari jaksa.

"Pada prinsipnya sesuai ketentuan, kejaksaan hanya sekali mengeluarkan P-19. Bahwa sampai dengan saat ini, petunjuk sebagaimana P-19 belum bisa dipenuhi oleh penyidik," kata Fathur di Surabaya, Selasa (21/12/2021).

Lalu saat disinggung seperti apa petunjuk yang diminta jaksa pada penyidik kepolisian, Fathur enggan membeberkan. Menurutnya, hal ini bukan konsumsi publik. Dia menyebut, jika disampaikan secara terbuka, dikhawatirkan bisa mengganggu proses penyidikan polisi.

2. Berkas Dinyatakan Lengkap, Tersangka Tak Kunjung Tertangkap

Berkas kasus pencabulan yang menjerat MSAT telah dinyatakan lengkap atau (P21) pada Selasa (4/1). Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko mengatakan, kasus ini menjadi atensi Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta. Untuk itu, pihaknya akan melakukan proses tahap dua secepatnya.

"Secepatnya kita akan proses tahap dua, targetnya secepatnya," kata Gatot kepada detikcom di Surabaya, Kamis (6/1/2022).

Namun, saat polisi melakukan pemanggilan pada pelaku, dia tak kunjung hadir. Polisi pun mengancam akan melakukan penjemputan paksa pada MSAT.

Usai beredar kabar ini, ribuan santri menjaga pesantren untuk mencegah penangkapan MSAT. Penjagaan dilakukan ribuan santri dan santriwati sejak pagi. Mereka berjaga mulai dari jalan raya menuju pesantren, di pintu masuk hingga area dalam pondok.

"Secara kelembagaan, secara institusi kami dididik untuk menghormati negara, pemerintah, institusi Polri. Namun kalau ada oknum-oknum yang kami duga dan kami yakini memaksakan kasus ini, maka pilihannya kami akan mempertahankan pesantren kami, dari upaya-upaya yang menurut kami melakukan rekayasa terhadap permasalahan ini," kata Juru Bicara Pesantren, Joko Herwanto kepada wartawan di lokasi, Rabu (12/1/2022).