Anak Kiai Ini Tersangka Pencabulan dan DPO, yang Sembunyikan Bisa Dipidana

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 23:22 WIB
Polisi meminta tidak ada pihak yang berupaya menghalangi proses hukum terhadap MSAT, anak kiai yang menjadi tersangka dugaan pencabulan santriwati. Perbuatan menghalangi proses penegakan hukum bisa dipidana.
Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Jombang - Polisi meminta tidak ada pihak yang berupaya menghalangi proses hukum terhadap MSAT, anak kiai yang menjadi tersangka dugaan pencabulan santriwati. Perbuatan menghalangi proses penegakan hukum bisa dipidana.

"Kami mengimbau agar tetap kondusif. Pihak-pihak yang menghalangi penyidikan, menyembunyikan orang-orang yang dalam proses penegakan hukum, tentu ada konsekuensi sendiri," kata Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat kepada wartawan, Senin (17/1/2022).

Ia menjelaskan, konsekuensi dari menghalang-halangi proses penegakan hukum adalah sanksi pidana sesuai ketentuan Pasal 216 ayat (1) KUHP. Pelaku bisa dihukum penjara paling lama 4 bulan 2 minggu.

Kemudian pihak-pihak yang menyembunyikan tersangka bisa dijerat dengan Pasal 221 ayat (1) KUHP. Pelaku diancam hukuman penjara paling lama 9 bulan.

"Kami imbau para pihak untuk berpikir jernih. Proses hukum tetap berjalan, tidak melibatkan lembaga, kami tidak terkait lembaga, apalagi pondok pesantren. Kami sangat hormat betul pondok pesantren, tapi kalau ada yang memprovokasi warga, itu kami kurang setuju, tentunya ada konsekuensi," terang Nurhidayat.

MSAT merupakan putra pengasuh ponpes di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang. Ia menjadi tersangka kasus dugaan pencabulan terhadap santriwati. Berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan Tinggi Jatim pada 4 Januari 2022.

Juru bicara ponpes tersebut Joko Herwanto menjelaskan, pihaknya tidak melakukan pengadangan terhadap tim dari Polda Jatim yang datang ke pondok pada Kamis (13/1). Saat itu, polisi mengantar surat panggilan kedua untuk MSAT.

"Yang saya tahu kemarin itu kan tidak ada pengadangan. Itu kan kemarin sudah dipersilakan masuk oleh pihak keamanan pesantren. Cuma memang dari Polda tidak berkenan," jelasnya.

Aksi ribuan santri berjaga di ponpes, menurut Joko, sebatas untuk doa bersama agar persoalan yang menjerat MSAT selesai dengan baik. Di lain sisi, tim pengacara MSAT menempuh upaya praperadilan kedua kalinya yang sidangnya diagendakan di Pengadilan Negeri Jombang 20 Januari nanti.

"Kami berharap semua pihak menahan diri untuk tidak terprovokasi dan menghormati upaya hukum MSAT sampai sidang praperadilan selesai," tambahnya.

Ia juga menghormati dan menghargai imbauan Kapolres Jombang agar tidak ada pihak-pihak yang berniat maupun berupaya menghalang-halangi proses penegakan hukum. "Imbauan Kapolres kami hormati sebagai upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif," pungkas Joko. (sun/sun)