Kasus Bully Siswa SMP Hingga Tulang Paha Dipotong Dimediasi, Apa Hasilnya?

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 12 Jan 2022 17:59 WIB
Kapolsek Licin Iptu Dalyono
Kapolsek Licin Iptu Dalyono (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Kasus bullying atau perundungan yang membuat tulang paha siswa SMP di Banyuwangi dilaporkan ke polisi. Polisi menanggapi laporan tersebut dengan memanggil pihak yang dilaporkan.

Polisi memanggil pihak pelapor, keluarga terduga pelaku, dan sekolah. Polisi memediasi mereka. Mediasi telah dilakukan pada Selasa (11/1) kemarin. Apa hasil mediasi?

Kapolsek Licin Iptu Dalyono mengatakan berdasarkan hasil mediasi tersebut, pihak keluarga pelaku mengakui bahwa anaknya telah berbuat salah dan meminta maaf atas kejadian tersebut.

Pihak kepala sekolah yang sebelumnya bersikeras bahwa kejadian itu di luar tanggung jawab sekolah akhirnya juga mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada keluarga korban.

"Alhamdulillah persoalan ini bisa selesai secara kekeluargaan. Namun pihak keluarga meminta agar permohonan maaf tersebut disampaikan secara terbuka melalui desa. Sudah kita buatkan surat pernyataannya," kata Dalyono kepada detikcom, Rabu (12/1/2022).

Untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang, Polsek Licin rencananya akan melakukan sosialisasi dan pembinaan terhadap para dewan guru beserta pengelola yayasan di sekolah tempat kejadian bullying tersebut.

"Ini harus menjadi perhatian kita semua, termasuk para dewan guru. Jangan sampai terjadi kasus serupa di masa mendatang," tegasnya.

Diketahui, siswa SMP di Banyuwangi mendapatkan perundungan terhadap teman sekelasnya. Akibat perundungan tersebut, siswa berinisial G (13) harus menjalani operasi patah tulang untuk kedua kalinya.

Bahkan, dokter terpaksa melakukan pemotongan terhadap tulang pahanya sepanjang 4 centimeter karena telah terjadi infeksi pada lukanya tersebut.

Keluarga korban pun terpaksa membawa persoalan ini ke ranah hukum, karena keluarga terduga pelaku dinilai tidak ada itikad baik untuk meminta maaf.

Tak hanya itu, dari pihak sekolah pun terkesan lepas tangan dan menganggap kejadian tersebut bukan tanggung jawab sekolah karena terjadi di luar jam pelajaran sekolah. Padahal, peristiwa perundungan tersebut jelas-jelas terjadi di lingkungan sekolah.

"Sepenuhnya kami serahkan kepada hukum," kata orang tua korban, Imam Lutvy saat dikonfirmasi wartawan, Selasa kemarin. (iwd/iwd)