Nakhoda Kapal Penangkap Lumba-lumba di Pacitan Jadi Tersangka

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 16:51 WIB
nakhoda kapal penangkap lumba-lumba jadi tersangka
Nakhoda kapal penangkap lumba-lumba jadi tersangka (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Nakhoda kapal yang diviralkan menangkap hingga mati lumba-lumba di perairan Pacitan ditetapkan sebagai tersangka. Selain terkait lumba-lumba, si nakhoda juga terjerat dalam kasus lain.

Polisi menetapkan nakhoda JW alias BJ (35) sebagai tersangka usai unggahan lumba-lumba mati viral di media sosial. Pria asal Pekalongan itu juga dijerat dalam kasus berbeda. Saat ini tersangka diamankan di mapolres.

"Jadi pelanggaran dari yang bersangkutan adalah mereka melakukan pelayaran tanpa izin berlayar," kata Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono saat konferensi pers di Gedung Graha Bhayangkara, Jl A Yani, Selasa (11/1/2022).

Tidak itu saja, operasional kapal motor tersebut juga tidak dilengkapi Surat Izin Penangkapan yang sesuai dengan zona tangkap. Bahkan, lanjut kapolres kapal yang digunakan untuk menangkap ikan juga tidak dilengkapi dengan alat pelacak.

Masih menurut kapolres, kapal tersebut memiliki izin operasional di wilayah Trenggalek. Namun faktanya mereka berangkat dari pelabuhan Pacitan. Bahkan zona tangkapnya hingga menembus perairan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Dan dari koordinat itu yang bersangkutan ada Pacitan dan sampai Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini yang saya bilang serampangan. Dan alat pelacak di kapal itu pun juga dimatikan padahal itu sangat diperlukan Syahbandar Perikanan untuk memantau pergerakan kapal-kapal ikan," katanya.

"Dan pada akhirnya dia menangkap ikan atau illegal fishing dan akhirnya tertangkaplah selain ikan juga lumba-lumba yang kita ketahui bahwa lumba-lumba tersebut adalah hewan yang dilindungi," tambah kapolres.

Dalam menangani kasus ini, polisi menerapkan tiga jerat hukum sekaligus. Yaitu pasal 40 ayat 2 dan ayat 4 UU/5 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem. Selain itu tersangka juga dikenakan pasal 98 UU Cipta Kerja No 11/2020 perubahan atas UU/45 2009 tentang Perikanan.

Tidak itu saja, tersangka JW juga diduga menghapus sejumlah dokumen elektronik di dalam smartphone yang dia gunakan. Hal itu menyulitkan petugas dalam proses penyelidikan. Akibat perbuatannya, tersangka dapat dikenai pasal 48 ayat 1 juncto pasal 32 ayat UU/11 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Karena ada suatu informasi di handphone-nya yang dihilangkan oleh yang bersangkutan, dihapus. Baik berbentuk video maupun chat," kata kapolres didampingi pihak Syahbandar Perikanan dan BKSDA Madiun.

Seperti diberitakan, polisi memeriksa nahkoda dan 22 orang ABK usai unggahan lumba-lumba mati viral di media sosial. Hasil penyelidikan tidak didapati unsur kesengajaan dalam kasus tersebut. Ke 22 orang ABK hanya berstatus saksi dan diizinkan pulang. Namun nahkoda ditetapkan tersangka dalam kasus lain. (iwd/iwd)