Begini Cara Milenial Banyuwangi Lestarikan Manuskrip Kuno

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 09:33 WIB
milenial Banyuwangi menggelar pelantunan tembang naskah kuno
Penembang naskah kuno (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi - Beberapa milenial Banyuwangi menggelar pelantunan tembang naskah kuno. Ini sebagai bentuk pelestarian manuskrip kuno yang masih ada di Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini.

Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN) beserta beberapa orang seniman, budayawan, dan pelestari naskah kuno, menggelar kegiatan pelantunan babad Tawangalun di Pendopo Pelinggihan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Kamis (30/12/2021) malam.

Acara yang dibingkai dengan tema 'Merajut kebhinekaan dalam bingkai manuskrip kuno' ini diikuti 40-an orang dari kelompok penembang muda. Secara bergiliran, mereka melantunkan tembang demi tembang kuno yang tercatat dalam manuskrip tersebut.

Pegiat pelestari naskah kuno, Wiwin Indiarti, menjelaskan, tradisi pelantunan tembang naskah kuno ini sesuai tradisi lokal. Diketahui, di Banyuwangi masih ada tradisi Mocoan yang biasa dilakukan oleh suku Osing; Mamaca dari etnis Madura; Macopatan dari Jawa hingga Mabasa dari adat tradisi Bali.

"Banyuwangi memiliki banyak suku. Dan mereka tetap melestarikan budaya dan tradisi turun temurun. Ini terus kita lestarikan bersama dengan generasi muda," ujarnya kepada wartawan.

Naskah-naskah kuno itu, kata Wiwin, kebanyakan disebut lontar. "Di Banyuwangi, penyebutan naskah kuno adalah lontar. Jadi tidak berarti naskahnya tertulis di daun lontar," jelasnya.

Salah satu peserta, Fitri Handayani mengaku antusias menjadi bagian dari milenial dalam pelestarian naskah kuno di Banyuwangi.

"Saya harap, dengan adanya kegiatan ini, akan banyak kalangan muda yang tertarik untuk mempelajari mocoan atau semacamnya, khususnya babad Tawangalun ini," ungkapnya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudpar Banyuwangi, Dewa Alit Budianto berterima kasih kepada milenial Banyuwangi yang terus berupaya dalam pelestarian naskah kuno.

"Ini merupakan kontribusi bagi pemajuan kebudayaan di Banyuwangi yang dilakukan oleh para millenial," tambahnya.

Para millenial, kata Dewa Alit, merupakan tonggak harapan sebagai penerus dalam pelestarian dan pelantunan naskah kuno.

"Mereka penerus tradisi mocoan, mamaca dan lain sebagainya. Sebab saat ini, hanya generasi-generasi kakek nenek mereka yang melestarikan manuskrip kuno ini," pungkasnya. (fat/fat)