Pemkab Ponorogo Terus Berjuang Reog Masuk Warisan Tak Benda UNESCO

Charoline Pebrianti - detikNews
Rabu, 22 Des 2021 21:25 WIB
Pemkab Ponorogo bersama Fasilitator dari Unesco
Pemkab Ponorogo bersama Fasilitator dari Unesco (Foto: Dok. Pemkab Ponorogo)
Ponorogo - Pemkab Ponorogo terus mengupayakan agar Reog masuk ke dalam warisan budaya tak benda United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Berbagai cara dilakukan Pemkab diantaranya dengan mengundang fasilitator Unesco.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menambahkan Pemkab Ponorogo masih terus berjuang dan berusaha agar Reog Ponorogo masuk dalam ICH-UNESCO.

"Kami saat ini mengundang fasilitator dari Unesco, untuk bagaimana memberikan arahan, memberikan penilaian, sebelum naskah kita kirim ke Unesco," kata Giri kepada wartawan, Rabu (22/12/2021).

Pihaknya sudah melakukan persiapan sesuai dengan yang diminta Unesco. Di antaranya Reog membawa dampak ekonomi, apakah Reog budaya rakyat, serta bahan baku Reog.

"Bagaimana mencukupi selera Unesco, maka kami undang tenaga ahli," terang Giri.

Sementara, Fasilitator ICH-UNESCO untuk Asia Pasifik Harry Waluyo menjelaskan permasalahannya diantaranya penggunaan burung merak dan kulit harimau yang digunakan untuk ornamen Reog Ponorogo.

"Tapi ini ada solusinya dan semua harus komit. Bagaimanapun juga Unesco telah menetapkan penilaian," papar Harry.

Harry menambahkan ada beberapa solusi yang ditawarkan, di antaranya kulit harimau diganti dengan kulit hewan lain yang tak dilindungi. Sedangkan burung merak terjawab dengan adanya penangkaran.

"Harapannya, ini bisa menjadi goal. Karena pada 2009 lalu Reog Ponorogo pernah diklaim oleh negara tetangga. Kemudian 2017 juga isu yang sama mencuat," imbuh Harry.

Menurut Harry, Reog Ponorogo nilainya tidak buruk. Selisih penilaian tidak jauh dibanding dengan gamelan yang terlebih dahulu sudah diakui oleh Unesco. Sebab, waktu diusulkan Reog bersama dengan 3 elemen lain, yakni gamelan, kulintang dan sebuah lukisan.

"Gamelan tidak hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara sudah dijadikan kurikulum," terang Harry.

Menurut Harry, Reog akan diakui oleh Unesco peluangnya masih 50 banding 50. Sebab, penilaian tetap fair tidak hanya skala Nasional.

"Karena ada yang lain juga maju," pungkas Harry. (iwd/iwd)