3 Mahasiswa IAIN Ponorogo Sabet Juara Olimpiade Bikin 'Julid', Jenang Kulit Durian

Charolin Pebrianti - detikNews
Senin, 13 Des 2021 10:27 WIB
mahasiswa IAIN Ponorogo juara 1 bikin jenang berbahan dasar kulit durian
Mahasiswi IAIN Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/detikcom)
Ponorogo - Tiga mahasiswa IAIN Ponorogo berhasil menyabet juara pertama lomba Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) di Aceh. Mereka adalah Luluk Fuadah (22), Rizki Putri Asyari (22) dan Vera Febriyana (21).

Ketiganya berhasil membuat jenang berbahan dasar kulit durian dan tulang ikan lele. Diberi nama, Julid singkatan dari jenang kulit durian.

"Kelebihannya jenang ini ada tambahan kalsium tinggi tapi tidak merubah rasa khas jenang," tutur ketua kelompok Luluk kepada detikcom, Senin (13/12/2021).

Luluk menerangkan jenang biasanya jadi makanan khas atau oleh-oleh dari Ponorogo. Namun kandungan kalsium dari jenang sangat rendah hanya 0,37 persen.

Akhirnya karena melihat banyaknya limbah tulang lele dan kulit durian, mereka pun berusaha mencari formula untuk pengolahan jenang. Tujuannya, untuk mendapatkan nilai kalsium yang lebih tinggi. Sebab, mineral paling tinggi yang dibutuhkan tubuh adalah kalsium.

"Dengan ditambah tulang ikan lele, kandungan kalsium di dalam jenang sebanyak 1,91 persen," papar Luluk.

Proses pertama, pengambilan kulit durian. Bagian albedo atau bagian dalam kulit durian berwarna putih dibersihkan kemudian dikeringkan dengan oven selama satu jam. Lalu dihaluskan dengan cara diselep.

Sedangkan tulang ikan lele, didapat dari lele mentah sebanyak lima ekor. Tulang ikan dicuci, dikukus, dioven dan diblender.

"Selain kedua bahan tadi ada tambahan tepung ketan, gula merah, santan, gula pasir dan garam," tukas Luluk.

Setelah diolah, jenang tersebut rasanya sama dengan jenang pada umumnya. Namun sedikit lebih berserat karena efek tambahan kulit durian.

Satu karung kulit durian bisa menghasilkan satu kilogram tepung. Sedangkan satu kali produksi dibutuhkan 15 sendok tepung kulit durian dan setengah sendok teh tepung tulang ikan. Satu kali produksi, mereka mampu menghasilkan 500 gram jenang.

"Jenang ini lebih tahan lama, kalau jenang biasa satu minggu sudah keras. Ini bisa tahan dua minggu," ujar Luluk

Sementara, dosen pembimbing Titah Sayekti menambahkan proses pembuatan produk ini sejak enam bulan lalu. Sebab, kesulitan utama mencari formulasi yang tepat.

"Kalau dana sekitar Rp 300 ribu, yang mahal saat pengujian laboratorium dari nilai gizi yang ada di dalam jenang. Tapi kalau bahan termasuk murah, karena dari limbah," kata Titah.

Titah ingin dengan adanya inovasi olahan jenang ini bisa diperjualbelikan ke masyarakat. Terutama sebagai makanan oleh-oleh yang bergizi.

"Kulit durian ini bisa jadi subtitusi tepung beras, jadi pemanfaatan limbah. Kalau tulang ikan lele diambil kalsiumnya," pungkas Titah.

(fat/fat)