Mahapatih Gajah Mada Pemersatu Nusantara, Seperti Apa Sosoknya?

Enggran Eko Budianto - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 08:27 WIB
penampakan Candi atau Gapura Wringinlawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto
Patung Gajah Mada di depan Mapolres Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto -

Mahapatih Gajah Mada berjasa besar mempersatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Namun hingga kini, sosoknya masih menjadi kontroversi.

Dalam bukunya berjudul Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara, Mohammad Yamin menduga Gajah Mada berasal dari kalangan rakyat biasa. Mahapatih Majapahit ini lahir di kaki Gunung Arjuna-Kawi, Malang pada permulaan abad 14 sekitar tahun 1300 masehi.

Namun, Gajah Mada mempunyai semangat yang luar biasa untuk membesarkan negaranya yang baru dibentuk. Seperti diketahui, Raden Wijaya mendirikan Majapahit pada tahun 1293 masehi.

Dalam bukunya itu pula, sejarawan sekaligus Menteri Penerangan era Presiden Soekarno itu menggambarkan rupa Gajah Mada. Mahapatih Majapahit itu mempunyai wajah bulat gemuk dengan tulang pipi dan dahi yang menonjol. Sorot matanya yang tajam membuat rupa Gajah Mada versi Yamin terlihat garang.

"Rupanya penuh dengan kegiatan yang mahatangkas dan air matanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh," tulis Yamin seperti dikutip detikcom, Sabtu (4/12/2021).

Baca juga: Selamatkan Jayanegara Dongkrak Karir Gajah Mada Jadi Mahapatih Majapahit

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Wicaksono Dwi Nugroho rupa Gajah Mada yang digambarkan Yamin murni hasil penafsiran sejarawan tersebut. Karena sampai saat ini belum ada satu pun sumber sejarah yang menggambarkan sosok Gajah Mada.

"Secara fisik tidak ada gambaran, sejarah yang menggambarkan fisik Gajah Mada juga tidak ada. Semua penuh tafsir M Yamin," terangnya.

Namun, rupa Gajah Mada hasil penafsiran Yamin terlanjur diamini banyak orang. Bahkan, sosok Mahapatih Majapahit itu masuk di buku-buku pelajaran sekolah dasar.

Patung maupun relief Gajah Mada di beberapa tempat juga mengadopsi hasil penafsiran Yamin. Seperti di Pendapa Agung Trowulan, Mojokerto.

Wicaksono menjelaskan rekonstruksi rupa Gajah Mada sejauh ini menemui jalan buntu karena tidak adanya sumber sejarah yang benar-benar sahih. Prasasti Mada atau Singosari yang dibuat Gajah Mada sekalipun tidak menggambarkan sosok Mahapatih Majapahit tersebut.

"Prasasti Mada karena yang membuat Gajah Mada, tapi tidak menceritakan tentang Gajah Mada. Itu tentang renovasi Candi Singasari, yang mendapatkan tugas memimpin atau sebagai pimpro Gajah Mada pada masa Hayam Wuruk," tandasnya.

(fat/fat)