15 Dokter FK Unair Bantu Bayi dengan Gangguan Pendengaran di Banyuwangi

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 20:37 WIB
dokter fakultas kedokteran unair
15 Dokter dikirim ke Genteng, Banyuwangi (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Sebanyak 15 dokter program pendidikan dokter spesialis (PPDS), dokter THT, dokter senior, perawat di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya dikirim ke Desa Genteng Kulon Kabupaten Banyuwangi. 15 Dokter dan perawat ini mengabdi ke masyarakat dan membantu bayi yang mengalami gangguan pada pendengaran.

Dekan Fakultas Kedokteran Unair Prof Dr dr Budi Santoso SpOG (K) mengatakan selain melakukan pengabdian masyarakat, FK Unair juga memberi bantuan alat pendengaran. Meski jumlahnya yang tak banyak, tetapi ia berharap dapat bermanfaat bagi masyarakat.

"Ini pengabdian masyarakat di desa Genteng Kulon Kabupaten Banyuwangi. Ada 3 bantuan alat pendengaran untuk anak-anak tunarungu," kata Prof Budi kepada wartawan di Gedung FK Unair, Jumat (3/12/2021).

Kegiatan bakti sosial ini bukan kali pertama dilakukan. Desa Genteng Banyuwangi sendiri merupakan desa binaan dari sejawat FK Unair-RSU dr Soetomo. Dan sudah ketiga kalinya kegiatan dilakukan di desa ini untuk pencegahan gangguan pendengaran.

"Bayi yang baru lahir diseleksi, mungkin karena infeksi rubela bisa terdampak pada gangguan pendengaran. Bayi itu susah, ada gangguan pendengaran atau tidak, nah ini yang kita ajarkan. Selain pemberian alat pendengaran dan pemeriksaan gratis, seminar cara meriksa baik ke nakes maupun ibu, dan edukasi," jelasnya.

Ketua Departemen THTKL FK Unair, Dr dr Muhtarum Yusuf SpTHT KL menjelaskan alasan mengapa Desa Genteng Banyuwangi dipilih. Karena beberapa kasus ditemukan di Banyuwangi, tetapi secara rata-rata di tiap daerah terdapat kasus tersebut.

Menurut Muhtarum, penyebab gangguan pendengaran pada bayi atau balita secara teori ialah genetik atau bawaan. Jika deteksi tersebut bisa diketahui lebih awal, maka bisa dilakukan treatment atau pengobatan.

"Apa hanya dengan alat saja, latihan komunikasi atau harus dengan operasi. Tapi yang ketemu (kasus pendengaran) di balita atau bayi itu bawaan lahir, infeksi rubela saat kehamilan. Saat kehamilan tidak bisa terdeteksi, pas lahir ketahuan," jelasnya.

Gangguan pendengaran pada bayi atau balita ini bisa dideteksi sebelum usia satu tahun, tepatnya ketika balita belum bisa berkomunikasi. Ketika itu, maka bisa dilakukan treatment.

"Potensi anak harus komunikasi dengan apa? Kalau terapi wicara bisa, kalau alat dengar cukup ya cukup. Yang paling berat implan. Kalau terus dilatih bisa ngomong. Komunikasi dengan bahasa yang tanpa kelainan pendengaran atau campuran gerak isyarat. Sehingga anak ke depan pakai pendidikan biasa atau luar biasa," pungkasnya.

(iwd/iwd)