Risma Paksa Tunarungu Bicara Disebut Bukan Motivasi Malah Bikin Drop

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 16:07 WIB
Ketua Departemen THTKL FK Unair  Dr dr Muhtarum Yusuf SpTHT KL
Ketua Departemen THT Unair (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Mensos Tri Rismaharini menjadi buah bibir usai memaksa tunarungu berbicara di depan publik pada Rabu, (1/12). Hal yang dilakukan Risma ini pun ditanggapi Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher (THTKL) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Muhtarum Yusuf SpTHT KL.

Ketua Departemen THTKL FK Unair ini mengaku yang dilakukan Risma malah membuat drop bagi tunarungu.

"Kalau belum mampu dipaksa, kan belum levelnya, malah bisa drop," kata dr Muhtarum kepada wartawan di FK Unair, Jumat (3/12/2021).

Bagi Muhtarum, apa yang dilakukan mantan Wali Kota Surabaya itu bukan malah memotivasi anak tersebut. Sebab, jika tidak sesuai kemampuannya dan dipaksa berbicara justru tidak memotivasi.

"Kalau dia disuruh harus bicara di depan umum yang kemampuannya bukan semestinya malah bukan memotivasi, malah jadi minder," jelasnya.

Seharusnya, tambah dia, harus diketahui dan mengerti kategori pendengaran anak tersebut seberat apa.

Baca juga: Mengemuka Kritik ke Risma Usai Paksa Tunarungu Bicara

"Kalau berat dan tidak mampu berkomunikasi seperti kita, dia akan trauma untuk dia, handicap, merasa kurang," tegasnya.

Menurut dia memaksa anak tunarungu untuk berbicara jika tujuannya motivasi, belum pada levelnya.

"Lebih baik, dilakukan identifikasi terlebih dahulu," tambahnya.

Ia menegaskan kata kuncinya yakni memaksimalkan potensi. Ketika potensi pendengarannya bisa berkembang seperti orang normal, maka akan baik. Tapi sebaliknya, jika tidak berkembang, maka harus menyesuaikan dengan kemampuannya.

Lalu, seperti apa untuk memotivasi anak dengan gangguan pendengaran? Muhtarum menjelaskan, jika motivasi itu bisa tumbuh dari lingkungan sekitar. Seperti rumah dengan orang tua, lingkungan masyarakat hingga pendidikannya.