Mengemuka Kritik ke Risma Usai Paksa Tunarungu Bicara

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 07:20 WIB
Jakarta -

Kritik mengemuka bagi Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Risma. Risma menjadi sorotan usai memaksa tunarungu berbicara.

Rabu, 1 Desember 2021, berlangsung peringatan Hari Disabilitas Internasional 2021 di Gedung Aneka Bhakti Kemensos. Acara ini juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemensos RI.

Di panggung, Risma berdiri bersama penyandang disabilitas rungu wicara dan autisme bernama Anfield Wibowo. Anfield yang memang gemar melukis membawa karyanya di lokasi. Anfield lantas memegang mikrofon dan mencoba berbicara.

"Apa? Yang mau disampaikan ke Ibu apa?" ujar Risma bertanya ke Anfield.

Anfield tampak memegang kertas dan mencoba berbicara. Seorang juru bicara bahasa isyarat membantu memperjelas apa yang disampaikan Anfield.

"Selamat siang, Ibu dan Bapak, hadirin sekalian di sini. Semoga ibu menteri suka dengan lukisan Anfield. Terima kasih," kata Anfield melalui juru bicara bahasa isyarat di Kemensos.

Setelahnya Risma mengajak seorang penyandang disabilitas tunarungu wicara lain bernama Aldi ke atas panggung.

"Aldi, ini ibu. Kamu sekarang harus bicara, kamu bisa bicara. Ibu paksa kamu untuk bicara. Ibu nanam... eh melukis, tadi melukis pohon, ini pohon kehidupan. Aldi ini pohon kehidupan. Ibu lukis hanya sedikit tadi dilanjutkan oleh temanmu Anfield. Nah, Aldi, yang ibu ingin sampaikan, kamu punya di dalam, apa namanya, pikiranmu, kamu harus sampaikan ke ibu, apa pikiranmu," ucap Risma.

"Kamu sekarang, ibu minta bicara, nggak pakai alat. Kamu bisa bicara," imbuh Risma.

Aldi lantas tampak mencoba berbicara tapi suaranya lirih. Risma terus meminta Aldi berbicara tanpa menggunakan alat bantu.

Tak berapa lama, ada seorang perwakilan dari Gerakan untuk Kesejahteraan tunarungu Indonesia (Gerkatin) bernama Stefanus yang naik ke panggung. Stefanus tampak berbicara menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan langsung oleh juru bicara bahasa isyarat.

"Ibu. mohon maaf, saya mau berbicara dengan ibu sebelumnya," kata Stefanus.

"Bahwasanya anak tuli itu memang menggunakan alat bantu dengar tapi tidak untuk kemudian dipaksa bicara. Tadi saya sangat kaget ketika ibu memberikan pernyataan. Mohon maaf, Bu, apa saya salah?" imbuhnya.

"Nggak, nggak," kata Risma.

"Saya ingin menyampaikan bahwasanya bahasa isyarat itu penting bagi kami, bahasa isyarat itu adalah seperti mata bagi kami, mungkin seperti alat bantu dengar. Kalau alat bantu dengar itu bisa mendengarkan suara, tapi kalau suaranya tidak jelas itu tidak akan bisa terdengar juga," kata Stefanus.