Dampak Pembangunan Waduk Bendo, Ratusan Makam di Ponorogo Dipindah

Charolin Pebrianti - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 17:55 WIB
Ribuan Buruh Kembali Datang, Jalan Darmo Ditutup dan Diponegoro Macet
Makam warga dipindah terdampak Waduk Bendo (Foto: Charolin Pebrianti/detikcom)
Ponorogo -

Ratusan makam di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo, terpaksa dipindah. Pasalnya, makam kuno tersebut terdampak pembangunan Waduk Bendo.

Jika tak segera dipindah, ratusan makam tersebut bakal terendam air dari pengisian Waduk Bendo. Padahal makam yang biasa disebut Pemakaman Lebak tersebut sudah digunakan warga sejak zaman Belanda.

Waduk Bendo yang terletak di Dukuh Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Proyek yang mulai dikerjakan pada bulan Desember 2019 ini, kini telah siap untuk menyuplai air irigasi seluas 7.800 hektare lahan pertanian di wilayah Ponorogo dan Madiun.

Salah satu warga, Agung Marselo (45) mengaku memilih memindahkan makam kakeknya karena khawatir kualat. Dia pun berusaha memindahkan makam bersama dengan ratusan warga lain.

"Ini kan leluhur kita, asal usul kita. Sudah seharusnya menghormati dan menghargai, jadi dipindah makamnya daripada kualat nanti," tutur Agung kepada wartawan, Senin (29/11/2021).

Menurut Agung, kondisi makam sudah memprihatinkan dampak pembangunan Waduk Bendo. Sebab, lokasi makam hanya berjarak 50 meter dari genangan air Waduk Bendo. Warga khawatir jika tak segera dipindah, makam leluhurnya bakal tenggelam.

"Ini inisiatif warga, sebelumnya tidak ada sosialisasi terkait dampak pembangunan Waduk Bendo terhadap makam. Akhirnya warga memilih memindahkan makam leluhur ke makam lain yang lebih aman," imbuh Agung.

Pantauan detikcom, saat prosesi pemindahan makam. Warga diminta mengambil masing-masing tanah kuburan leluhurnya, kemudian dibungkus kain kafan layaknya jenazah dan diboyong ke tanah makam baru. Proses pemindahan ini pun penuh perjuangan, selain karena akses jalan yang licin karena masih tanah liat.

Warga pun harus rela menyeberangi sungai. Satu orang warga, tidak hanya membawa satu tanah makam. Bahkan ada yang membawa delapan tanah makam. Di tempat makam baru pun, warga didampingi Modin setempat untuk prosesi pemakaman.

(fat/fat)