Perahu 'Wedok' Ijon-ijon Khas Lamongan Didaftarkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

Eko Sudjarwo - detikNews
Minggu, 28 Nov 2021 13:58 WIB
Perahu Ijon-ijon, Perahu Tradisional Khas Lamongan yang Kerap Disebut Perahu Wedok
Perahu 'wedok' ijon-ijon (Foto: Eko Sudjarwo/detikcom)
Lamongan -

Setelah mendhak sangring dari Desa Tlemang, Kecamatan Sambeng, ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (Intangible cultural Heritage) kini Kabupaten Lamongan mengajukan perahu tradisional ijon-ijon sebagai bagian warisan budaya tak benda Indonesia.

Apa itu perahu ijon-ijon yang saat ini sudah pada tahap pengajuan penetapan warisan budaya tak benda itu?

Perahu Ijon-ijon adalah perahu khas Lamongan, tepatnya perahu tradisional nelayan yang ada di Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran. Proses pembuatannya diperoleh secara turun-temurun. Perahu ini memiliki fungsi untuk menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut serta mendinginkan atau mengawetkan ikan hasil nelayan-nelayan Lamongan.

"Oleh masyarakat, perahu ijon-ijon ini dikonotasikan sebagai perahu wedok (perempuan) dengan ciri linggi tumpul atau papak dan badan gemuk. Selain ciri-ciri tersebut, di perahu tradisional ini juga terdapat simbol-simbol seperti topeng, mata, alis, ukei/sanggul (gelung), mahkota (rambut) dan bunga. Itulah kenapa sering disebut perahu wedok," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah dalam perbincangannya dengan wartawan, Minggu (28/11/2021).

Di Desa Kandangsemangkon, menurut dia, galangan perahu tradisional ijon-ijon merupakan usaha non formal, tidak berbadan hukum, usaha personal yang keahlian dan keterampilannya diperoleh secara otodidak, pengalaman empirik alami, dan turun-temurun.

Tahapan produksinya, kata Rubikah, juga berbeda dengan galangan di daerah lain. Terutama cara pengkontruksian lambung dan pemasangan gading-gading. "Perahu Ijon-Ijon merupakan perahu khas Lamongan, karya tradisional turun temurun masyarakat Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran," ujarnya.

Dia menambahkan perahu ini masih tetap diproduksi dan mampu bertahan hingga saat ini di Desa Kandangsemangkon karena lokasi galangan yang strategis. Yakni di pinggir pesisir dan jalur Jalan Raya Daendels.