Cerita di Balik Tradisi Ganjuran Perempuan Melamar Pria di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 16:31 WIB
Gentong sebagai tempat pensucian diri atau Tirta Amerta di masjid agung lamongan
Gentong di Masji Agung Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo/detikcom)
Lamongan -

Pemerhati Sejarah Lamongan Muhammad Navis Abdurrouf mengatakan, tradisi ganjuran berawal dari anak kembar Bupati Lamongan ke III Panji Puspokusumo pada 1640-1665. Yakni, Panji Laras dan Panji Liris yang memiliki hobi kurang baik, sabung ayam.

Panji Laras dan Panji Liris mengadu ayam di suatu wilayah di Wirosobo (Kediri) yang sangat ramai dengan banyak penonton. Di sisi lain di sebuah rumah tepatnya dekat halaman tersebut did alam kamar terdapat 2 Putri Kembar, Andansari dan Andanwangi yang sedang dipingit orang tuanya, yaitu Bupati Wirosobo yang hanya bisa melihat dari sela-sela dinding kamar.

Pada saat itu, kisah Navis, Andanwangi dan Andansari melihat 2 pemuda yang sangat tampan dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah melihat kedua pemuda itu, baik Andanwangi dan Andansari sakit sawanen karena heran dan kagum melihat ketampanan Panji Laras dan Panji Liris.

Baca juga: Tradisi Ganjuran Ada di Lamongan, Perempuan Lamar Pria

"Bupati Wirosobo heran kenapa dua putrinya mendadak sakit. Dan diketahuilah jika penyebab sakitnya tersebut karena kaget melihat ketampanan kedua pemuda yang sedang mengadu ayam tersebut. Sehingga Bupati Wirosobo mencari kedua pemuda itu untuk menyembuhkan kedua putri nya," jelas Muhammad Navis Abdurrouf saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (23/11/2021).

Akhirnya diketahui dua pemuda tampan tersebut ternyata Panji Laras dan Panji Liris, putra dari Bupati Lamongan Bupati Wirosobo mengirim utusan untuk melamar Panji Laras dan Liris untuk menjadi suami Andanwangi dan Andansari. Oleh Panji Puspokusumo, lamaran tersebut tidak serta merta diterima tapi terlebih dahulu menanyakannya kepada 2 putranya dan ternyara dua anaknya menolak karena masih ingin membujang.

"Di sini Panji Puspokusumo mempunyai cara agar tidak terjadi peperangan dengan memberikan syarat yang berat dan dianggap tidak mampu memenuhi, yaitu disuruh membawa 2 gentong dan 2 kipas batu yang harus dibawa sendiri oleh Andanwangi dan Andansari. Dengan melewati Kali Lamong, syarat itupun dipenuhi keduanya," ungkap Navis seraya menambahkan gentong ini masih tersimpan di depan Masjid Agung Lamongan.