Tawuran Demi Konten, Psikolog: Cerminan Masyarakat Belum Matang Pakai Teknologi

Hilda Meilisa - detikNews
Kamis, 18 Nov 2021 10:59 WIB
Sekelompok remaja pasuruan Rekam Adegan Carok
Tawuran remaja demi konten (Foto: Tangkapan Layar)
Margaretha mengaku miris melihat kejadian tawuran ini. Namun dia menyebut mirisnya ini bukan pada anak-anak yang harus dibina, tetapi yang lebih miris karena masyarakat atau orang dewasa yang harus berkaca.

"Masyarakat baiknya koreksi diri, selama ini agak terlalu sering menampilkan kekerasan, benci orang lain, sampai pada titik memukul orang lain," imbuhnya.

Lalu kedua, Margaretha mengatakan dirinya curiga jika remaja tidak ada rasa takut pada hukum. Hal ini terjadi karena tidak ada proses kesadaran remaja jika dirinya menjadi objek hukum.

"Apa yang diamati remaja sampai dirinya merasa kebal hukum? ada kemungkinan masyarakat tidak menunjukkan sesuatu pemahaman hukum jika dirinya objek hukum, yang tidak boleh merugikan orang lain, menyakiti orang lain," jelasnya.

"Ini bukan soal disiplin, kita belajar hukum bukan hanya sekadar untuk menghukum anak, itu terlambat. Tapi memahami hukum agar harus patuh pada peraturan, membudayakan malu jika melanggar hukum, dan menghargai orang lain," tambahnya.

Sementara faktor ketiga lebih pada psikologis remaja tersebut. Dia mengatakan remaja yang melakukan kekerasan, bisa jadi berada di lingkungan yang biasa melakukan hal tersebut.

Sebelumnya dalam video viral itu, tampak dua kelompok remaja saling berhadap-hadapan membawa celurit dan cambuk di sebuah makam. Beberapa remaja menunggu di bawah pohon dan duduk-duduk di atas motor dengan membawa cambuk.

Sejurus kemudian, beberapa remaja lain datang dari arah depan dan membawa senjata tajam celurit.


(hil/fat)