Gubernur Suryo, Pencetus Pertempuran 10 November di Balik Nama Besar Bung Tomo

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 12:10 WIB
Menurut Kuncar, salah satu pejabat yang paling sibuk selama 10 hari itu adalah Gubernur Suryo. Selama kurun waktu itu, ia intens berkomunikasi terus meminta tolong pemimpin negeri seperti Bung Karno dan Bung Hatta.
Gubernur Suryo/Foto: Istimewa

Menerima mandat itu, lanjut Kuncar, Gubernur Suryo kemudian memegang kendali penuh Surabaya. Dan pada tanggal 9 November pukul 23.00 WIB, Gubernur Suryo membacakan keputusannya akan menghadapi sekutu hingga titik darah penghabisan.

Keputusannya itu, ia bacakan melalui siaran Radio Nirom (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) bekas milik Belanda. Kantor radio ini terletak di Jalan Embong Malang, Surabaya. Pidato Gubernur Suryo itu kemudian dikenal dengan 'Komando Keramat'

"Keputusannya malam itu kemudian disebut sebagai pidato 'Komando Keramat'. Karena itu memang keputusan final akan menghadapi atau menyerah kepada Inggris. Dan Gubernur Suryo menyatakan akan menghadapi Inggris," beber pria yang juga inisiator Forum Diskusi Sejarah Begandring Soerabaia itu.

"Nah sayangnya, rekaman pidato di Radio Nirom itu tidak ada. Jadi selama ini orang hanya mengenal sosok sentral Bung Tomo. Tapi sebenarnya sosok sentral itu ya Gubernur Suryo. Karena dia pimpinan tertinggi di Jatim. Jadi bisa dibilang pencetus, penggerak pertempuran 10 November itu ya Gubernur Suryo," paparnya.

Berikut pidato Komando Keramat menjelang Pertempuran 10 November 1945 yang dibacakan Gubernur Suryo:

Saudara-saudara sekalian,

Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini.

Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali.

Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap itu. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara Pemerintah, Rakyat, TKR, Polisi dan semua Badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita.

Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta Rahmat dan Taufik dalam perjuangan.

Selamat berjuang!


(sun/bdh)