Menyusuri Sejarah Jalur Rempah di Jatim Sejak Zaman Majapahit Hingga Kolonial

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 03 Nov 2021 21:17 WIB
festival jalur rempah
Festival jalur rempah di Sungai Brantas Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Sukses memonopoli perdagangan rempah nusantara membuat Majapahit menjadi kerajaan besar dan kaya. Kesuksesan itu dilanjutkan Bangsa Eropa melalui perusahaan kongsi dagang Hindia Timur (VOC).

Sejarah panjang itulah yang saat ini digaungkan Kemendikbud Ristek melalui Festival jalur rempah nusantara. Festival tersebut salah satunya digelar di Mojokerto dengan menyusuri Sungai Brantas.

Sungai besar ini menjadi salah satu jalur perdagangan utama pada zaman Majapahit tahun 1293 sampai 1527 masehi. Karena menghubungkan wilayah pedalaman seperti Batu, Malang, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dengan wilayah pesisir tempat pelabuhan seperti Pasuruan.

"Majapahit tidak hanya negara agraris, tapi juga mengembangkan teknologi kemaritiman sampai menguasai nusantara. Bukti arkeologinya adalah Sumpah Palapa untuk menguasai nusantara. Tidak lain Majapahit memonopoli perdagangan nusantara," kata Koordinator Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jatim Wicaksono Dwi Nugroho wartawan, Rabu (3/11/2021).

festival jalur rempahFoto: Enggran Eko Budianto

Pada masa itu, lanjut Wicaksono, Majapahit tidak hanya menjual hasil bumi di Jawa, namun juga menguasai perdagangan rempah dari wilayah Indonesia Timur. Karena kala itu rempah, seperti cengkeh, pala dan kayu manis menjadi komoditas unggulan.

"Majapahit mengumpulkan rempah dari Indonesia Timur ke Jatim. Sedangkan para pedagang dari China datang membawa keramik dan sutra sehingga terjadi pertukaran komoditas, salah satunya rempah," terangnya.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim ini menjelaskan Majapahit membangun kota pelabuhan besar untuk mendukung monopoli perdagangan rempah nusantara. Mulai dari pelabuhan di Tuban, berpindah ke Gresik, lalu ke Pasuruan. Komoditas rempah lantas dibawa para pedagang hingga ke India, Timur Tengah dan Eropa.

"Perairan nusantara saat itu dikuasai Majapahit. Perdagangan hasil bumi dikenai pajak. Dengan menguasai perdagangan otomatis mendapatkan hasil meski tidak menanam sendiri. Jadi, Majapahit menjadi kerajaan yang besar bukan karena hasil bumi yang mereka tanam, tapi menguasai perdagangan rempah nusantara," jelas Wicaksono.

Kesuksesan Majapahit, menurut Wicaksono, dilanjutkan Bangsa Eropa melalui perusahaan kongsi dagang Hindia Timur (VOC) pada abad 18 masehi. Mereka membangun gudang-gudang rempah besar di Surabaya. Selanjutnya, rempah dikirim ke Eropa melalui jalur laut.

"Ini yang menjadi alasan VOC menguasai nusantara. Rempah kita maknai sebagai komoditas yang menjadi harta karun nusantara mampu membentuk kemakmuran suatu negara," cetusnya.

Melalui festival jalur rempah nusantara, Wicaksono berharap generasi milenial memahami sejarah sekaligus nilai rempah. Wicaksono menilai rempah nusantara masih bisa menjadi komoditas unggulan pada masa sekarang maupun masa depan. Seperti produk minyak cengkeh, aroma terapi dan jamu yang bernilai tinggi dibandingkan dalam bentuk bahan mentah.

"Penguasaan produk dan perdagangan harus dikembalikan ke kita. Dimulai dari membuka wawasan generasi muda supaya menjadi produsen. Dari gerakan jalur rempah ini kami berupaya membuka pola fikir jangan meremehkan rempah. Rempah harus diolah untuk meningkatkan perekonomian dengan membuat produk dari rempah yang punya daya jual skala global," tandasnya.

(iwd/iwd)