Round-Up

Fenomena Kampung YouTuber di Bondowoso

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 20 Okt 2021 10:25 WIB
Kampung Youtuber di Bondowoso
Kampung YouTuber di Bondowoso (Foto file: Chuk Shatu Widarsha/detikcom)
Surabaya - Jika sebelumnya 3 warga Bondowoso diamankan polisi karena mengunggah tayangan berbau SARA dan hoaks di YouTube. Namun, di kabupaten yang dikenal tapal kuda ini warganya ada yang bisa meraup keuntungan fantastis dari YouTube. Seperti apa potretnya?

Adalah Imam Januar (34), warga Dusun Posong, Desa dan Kecamatan Tapen. Lelaki yang dulunya bekerja sebagai karyawan toko pakaian di kota Bondowoso ini, kini berpenghasilan sekitar 250 juta/ bulan.

Ia mengaku sama sekali tak pernah menyangka, belajar autodidaknya mengenai YouTube akan membuahkan hasil seperti saat ini. Pun bisa membantu pemuda sekitar. Dengan menjadi YouTuber.

Sehingga, para pemuda di kampung yang mulanya banyak pengangguran, kini jadi berpenghasilan karena jadi YouTuber. Bahkan terbilang berlebih, jika dibanding pekerjaan formal di sektor lain. Karena mereka saat ini dapat meraup pundi-pundi jutaan hingga puluhan juta rupiah per bulan.

"Dulu saya kerja di toko selama 13 tahun. Karena jenuh, saya lalu iseng-iseng berselancar di internet," kenang Imam, saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/10/2021).

Pemuda lulusan SMA Negeri 1 Tapen ini mengaku, setelah beberapa kurun berselancar di dunia maya tersebut, ia menemukan alternatif untuk mendapatkan penghasilan dari internet yang tanpa modal, yakni mengisi konten YouTube.

"Saya lalu mulai mencoba membuat kanal di YouTube. Lantas mulai mengisi konten-konten. Waktu itu tahun 2017 akhir. Selama empat bulan itu masih belum menghasilkan apa-apa," kata ayah satu anak ini.

Dia mengisahkan, lantaran tak memiliki modal yang cukup, ia hanya memanfaatkan telepon seluler Andorid-nya untuk merekam video, mengedit dan mengunggah ke akun YouTube.

Lihat juga video 'Heboh Warga di Bondowoso Rebut Jenazah Corona-Peti Dibakar':

[Gambas:Video 20detik]



"Baru pada tahun 2018 jerih payahnya membuahkan hasil. Ia langsung mendapatkan bayaran Rp 45 juta dari YouTube," imbuhnya.

Karena pekerjaan barunya itu memang jarang dilihat orang, Imam terus terang mengaku sempat jadi sasaran fitnah tetangga. Betapa tidak, ia yang dulunya tergolong berekonomi pas-pasan, mendadak bisa merenovasi rumah, membeli kendaraan, bahkan dapat melunasi utang-utangnya.

Namun seiring bergulirnya waktu, tanggapan orang di desanya sudah berbeda. Jika dulunya diduga melakukan hal yang tidak benar, kini mereka justru ingin tahu bagaimana menghasilkan uang dari YouTube.

Dusun Posong, Desa/Kecamatan Tapen kini bisa dibilang 'Kampung YouTuber'. Sebab, saat ini puluhan paramuda kampung itu jadi YouTuber.

Jika biasanya setamat SLTA para pemuda banyak mengadu nasib ke Bali atau Surabaya maupun kota besar lainnya, kini mereka lebih berdaya dengan lebih banyak tinggal di rumahnya. Mengelola kanal YouTube.

"YouTube ini memang cukup fenomenal. Jika dikelola dengan baik, menghasilkan rupiah. Tapi kalau salah pengelolaannya, dapat berdampak hukum, kendati juga menghasilkan uang. Jadi, terpulang ke kitanya juga. Mau memilih yang mana," pungkas Imam Januar.

Sementara salah seorang pemuda setempat, Angga, mengaku mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 250 juta/bulan. Meski ia mengaku pada tahap awal ia hanya mendapatkan Rp 2,5 juta.

"Saat itu, ketika masuk ke mesin ATM saya jadi kaget Apakah betul rekening saya ada uangnya dari YouTube. Setelah saya pencet-pencet mesin ATM, ternyata uangnya keluar. Akhirnya saya yakin bahwa dari YouTube ini betul-betul menghasilkan uang," cerita Angga. (fat/fat)