Batu Astadikpalaka Bukti Candi Tribhuwana Tunggadewi Bangunan Suci Majapahit

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 16:36 WIB
Ekskavasi Candi Tribhuwana Tunggadewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto kembali dilanjutkan. Penggalian arkeologi kali ini salah satunya untuk menemukan bagian pagar dan halaman candi Ratu Majapahit tersebut.
Batu astadikpalaka di Candi Tribhuwana Tunggadewi/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto diyakini sebagai candi untuk pemujaan terhadap Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Batu astadikpalaka yang ditemukan menjadi bukti kuat bangunan kuno tersebut tempat suci zaman Majapahit.

Candi Tribhuwana Tunggadewi seluas 14x14 meter persegi terbuat dari susunan potongan batu andesit. Jalan masuknya berupa tangga batu di sisi barat yang berundak menuju ke puncak candi. Sebuah batu yoni berdimensi 191x184x121 cm menghiasi puncaknya.

Terdapat ukiran angka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi pada permukaan barat yoni tersebut. Angka tahun yang menggunakan aksara Jawa Kuno itu diyakini sebagai waktu pembuatan Candi Tribhuwana Tunggadewi. Yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit 1350-1389 masehi.

Struktur bata merah kuno hanya ditemukan di bawah yoni. Yaitu berupa struktur penyangga yoni berukuran 345x345 cm dan sumur kotak 250x250 cm dengan kedalaman yang sudah diekskavasi 390 cm. Sumur ini menjadi tempat menyimpan peripih, wadah barang berharga milik raja.

"Sumuran di candi umumnya tempat menyimpan aura paling sakral yaitu peripih," kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Pahadi kepada detikcom, di lokasi ekskavasi, Selasa (28/9/2021).

Selain yoni dan sumur untuk menyimpan peripih, kesucian Candi Tribhuwana Tunggadewi juga dibuktikan dengan temuan batu astadikpalaka. Yaitu baru berelief pada kaki candi yang dipasang sesuai 8 arah mata angin.

Sejauh ini tim ekskavasi telah menemukan 7 dari 8 batu astadikpalaka di Candi Bhre Kahuripan. Yaitu di sisi timur, tenggara, selatan, barat daya, barat laut, utara dan timur laut.

"Tujuh sudah terlihat, satu batu relief kemungkinan ada di sisi barat di bagian tangga yang belum kami gali sampai sekarang. Kalau kita lihat dari beberapa kajian bangunan suci pada masa klasik, kalau terdapat batu itu maka bangunan tersebut bisa diyakini sebagai bangunan suci untuk proses pemujaan," terang Pahadi.