Warga Kampung BerKK-26 Situbondo Ini Masih Pilih Ketua Adat Hormati Leluhur

Chuck Shatu Widarsa - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 11:23 WIB
Secara Turun-Temurun Dusun di Situbondo ini Jumlah KK-nya Selalu 26
Dusun di Situbondo hanya 26 KK (Foto: Chuk Shatu Widarsha/detikcom)
Situbondo -

Kampung Karang Kenik, Situbondo kini kerap disebut Kampung KK-26. Di dusun ini warga masih menjunjung tinggi adat yang berlaku turun temurun.

Salah satu adat yang dipegang teguh warga yakni penetapan tentang ketua adat. Ketua adat selalu dipilih berasal dari keturunan atau memiliki garis dengan ketua adat sebelumnya.

Jika misalnya sang ketua adat kebetulan tak memiliki anak laki-laki sebagai penerus dan hanya mempunyai anak perempuan, maka penerus ketua adat berikutnya bakal dilanjutkan menantunya.

"Bapak saya dulu ketua adat. Anaknya perempuan semua. Yang melanjutkan akhirnya suami saya," kata Tarwiyah, kepada detikcom, Minggu (26/9/2021).

Tarwiyah merupakan istri Syaiful Arif, Ketua Adat Dusun KK-26 yang saat ini sedang menjabat. Disebutkan, ia menjabat ketua adat sejak beberapa tahun sebelumnya.

Untuk diketahui, di dusun yang dikenal unik ini masih berlaku pemerintahan informal. Ketua adat yang biasanya diambil dari keturunan sebelumnya ini tetap dianggap sebagai tokoh panutan, yang dihormati dan diikuti.

Menurut Syaiful Arif, dari cerita para moyang dulu, pembabat alas hingga menjadi dusun ini bernama Jujuk Jusman. Dalam bahasa lokal (Madura), 'jujuk' artinya kakek.

Makam Jujuk Jusman ini tak jauh dari dusun. Tepatnya di area lahan yang dikeramatkan. Setiap hari Senin dan Kamis, makam sesepuh pembabat alas dusun ini selalu ramai dikunjungi warga.

"Warga masih menghormati Jujuk Jusman ini. Caranya yakni dengan mengunjungi makam tiap Senin dan Kamis," pungkas Syaiful Arif.

Sebelumnya, dusun di Situbondo terbilang unik dan menarik. Sebab, Kepala Keluarga (KK)-nya terbatas hanya 26. Makanya, lantas sering disebut Dusun KK-26.

Menurut Ketua Adat dusun KK-26, Syaiful Arif, jumlah KK tersebut memang sudah turun temurun sejak zaman nenek moyangnya. Tak pernah lebih maupun kurang.

"Sebenarnya bukan diatur harus 26 KK. Tapi secara kebetulan saja, jumlahnya memang segitu," ujar Syaiful Arif, saat ditemui detikcom di rumahnya.

(fat/fat)