Resmikan Kampung Naga, Bupati Ipuk Dorong Petani Lakukan Hilirisasi Pertanian

Ardian Fanani - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 16:12 WIB
buah naga banyuwangi
Bupati Ipuk talkshow hybrid bersama 24 petani se-Indonesia (Foto: Ardian Fanani)

"Buah naga bisa berbuah sepanjang tahun, dan bisa panen setiap bulan. Jadi bertani buah naga sekarang itu senang terus. Apalagi kalau panen di luar musim, harganya bisa tinggi," kata ketua paguyuban petani buah naga Banyuwangi (Panaba).

Selain memperpanjang masa produksi dengan penyinaran lampu di malam hari, Edi dan petani buah naga lainnya terus berinovasi meningkatkan kualitas produksi tanaman buah naganya. Memadukan teknik perawatan dan pemupukan yang berimbang, kini produksi buah naga Edi bisa mencapai bobot 1 kg per buah.

"Alhamdulillah, yang awalnya bobot per biji hanya 0,5 kg, sekarang bisa 1 kg bahkan ada yang lebih. Kami memaksimalkan pemberian pupuk pupuk NPK Phonska Plus secara tepat dan presisi," kata Edi.

Edi mengaku menggunakan pupuk NPK Phonska Plus dari Pupuk Indonesia ini banyak kelebihannya. Dulu produktivitas panen sebesar 1-1,5 ton per hektare, kini meningkat menjadi 3-4 ton per hektare.

"Pakai Phonska tanaman lebih stabil. Saat pembungaan, bunga tidak mudah rontok sehingga produksi buahnya terjaga," kata Edi.

Sementara Direktur Produksi PT. Pupuk Indonesia (Persero) Bob Indiarto menjelaskan, pihaknya siap mendukung pengembangan pertanian Indonesia, termasuk di Banyuwangi. Salah satunya, dengan meresmikan Kampung Naga Phonska Plus ini.

Pupuk Indonesia juga memiliki berbagai program yang medukung regenerasi petani yang sinergis dengan program Banyuwangi. Misalnya, Agrosociopreneurship, program inovasi dan motivasi sektor pertanian yang melibatkan anak-anak muda, dan masih banyak lainnya.

"Ini sinergis dengan program Jagoan Tani Banyuwangi yang mendorong adanya regenerasi petani. Kita mengajak para milenial untuk mau terjun ke bisnis pertanian," kata Bob.

Bob menyebut, berdasarkan Sensus Pertanian nasional hanya ada 12 persen petani berusia di bawah 35 tahun. Adapun jumlah petani berusia di atas 45 tahun mencapai 61,8 persen. "Maka mengajak anak muda terjun ke bisnis pertanian itu sebuah tantangan," ujarnya.

Ditambahkan Bupati Ipuk, Banyuwangi sendiri memiliki program Jagoan Tani yang mendorong anak muda agar mau terjun ke bisnis sektor pertanian dan segala subsektornya. Jagoan Tani merupakan program terintegrasi, bukan hanya ide atau rintisan bisnis pertanian dikompetisikan, tapi juga ada mentoringnya, dikoneksikan dengan perbankan, dan diberi hadiah modal ratusan juta.

"Banyuwangi juga memilki program fasilitasi ijin (PIRT). Ini bisa dimanfaatkan dalam pelaksanaan hilirisasi nanti. Jika sudah membuat produk olahan, dinas terkait akan membantu pengurusan ijin dan pemasarannya," kata Ipuk.


(iwd/iwd)