Resmikan Kampung Naga, Bupati Ipuk Dorong Petani Lakukan Hilirisasi Pertanian

Ardian Fanani - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 16:12 WIB
buah naga banyuwangi
Bupati Ipuk talkshow hybrid bersama 24 petani se-Indonesia (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Banyuwangi telah dikenal menjadi salah satu sentra penghasil buah naga. Banyak desa di Banyuwangi merupakan penghasil buah naga, salah satunya di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo.

Kini, bekerja sama dengan salah satu BUMN Pupuk Indonesia, desa itu ditetapkan sebagai Kampung Naga Phonska Plus, yang diresmikan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Direktur Produksi PT. Pupuk Indonesia (Persero) Bob Indiarto, Jumat (24/9/2021) malam.

Kampung Naga Phonska Plus terletak di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo. Luas lahan buah naga di kampung ini mencapai 700 hektare dengan jumlah petani ratusan orang.

Disebut Kampung Naga lantaran hampir semua petani di desa ini kini menanam buah naga. Mereka juga telah menerapkan teknik penyinaran menggunakan lampu di malam hari atau dikenal inovasi Puting Si Naga (Penggunaan Lampu Tingkatkan Produksi Buah Naga). Inovasi ini telah masuk TOP 45 Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dam Reformasi Birokrasi.

Menandai peresmian Kampung Naga tersebut digelar panen Buah Naga dan Talkshow Hybrid. Talkshow digelar di tengah hamparan kebun buah naga, dan disiarkan nasional dengan diikuti sejumlah petani di 24 daerah se-Indonesia.

Dalam talk show tersebut, Ipuk mendorong petani buah naga melakukan hilirisasi pertanian dengan mengolah komoditas yang dihasilkan. Melalui hilirisasi, petani akan mendapat tambahan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraannya.

buah naga banyuwangiFoto: Ardian Fanani

Menurut Ipuk, buah naga merupakan salah satu komoditas unggulan Banyuwangi yang produksinya melimpah hampir mencapai 83.000 ton per tahun. Bahkan, dengan inovasi penggunaan lampu untuk penyinarannya, buah naga petani Banyuwangi mampu berproduksi sepanjang tahun di luar musim atau off season. Saat di luar musim, harganya relatif tinggi dibanding ketika panen raya.

"Melihat tingginya produksi buah naga, maka kita harus melakukan hilirisasinya. Petani kita dorong agar tidak hanya menjual komoditasnya, melainkan juga produk hilirnya," kata Ipuk kepada detikcom.

"Misalnya, diolah jadi mie, dodol, buah kering, keripik, minuman, atau produk olahan lainnya, sehingga petani bisa mendapatkan nilai tambah untuk peningkatan kesejahteraan mereka. Dinas terkait akan membantu pemasarannya," imbuh Ipuk.

Berdasarkan Data Dinas Pertanian dan Pangan, luas tanaman buah naga di Kabupaten Banyuwangi mencapai 3.786 hektare, dengan produktivitas sebesar 82.544 ton per tahun. Jumlah tersebut sekaligus mengukuhkan Banyuwangi, sebagai penghasil buah naga terbesar di Indonesia.

Salah satu petani, Edi Lusi, mengatakan dengan teknik penyinaran tersebut tanaman buah naganya bisa panen sepanjang tahun, bahkan di luar musim (off season).