Vaksinasi Dosis 1 di Jatim Capai 40%, Tertinggi Kota Mojokerto Terendah Sumenep

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 15:08 WIB
vaksinasi di jatim
Foto: Tangkapan Layar
Surabaya -

Vaksinasi dosis pertama di Jatim mencapai 40,50% dari target 31 juta masyarakat. Artinya, sebanyak 12.891.110 masyarakat Jatim telah divaksin.

Sementara untuk masyarakat yang telah mendapat vaksinasi dosis kedua, ada 21,48% atau jumlahnya 6.835.947.

Berdasarkan data yang diterima detikcom dari Satgas COVID-19 Jatim menyebut, Kota Mojokerto menjadi wilayah dengan cakupan vaksinasi tertinggi. Vaksinasi dosis pertama telah mencapai 122,41%. Lalu dosis kedua 73,68% dan dosis ketiga ada 64,47%.

Wilayah yang menduduki peringkat dua berdasarkan capaian vaksinasi yakni Kota Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, capaian vaksinasi dosis pertama sebanyak 103,80%. Sedangkan dosis kedua 65,86% dan dosis ketiga 84,77%.

Untuk daerah yang capaian vaksinasinya terendah yakni di Kabupaten Sumenep. Yang mana vaksinasi dosis pertamanya baru 12,83%, vaksinasi dosis kedua 5,64% dan vaksinasi dosis ketiga 53,91%.

Baca juga: Nah Lho, Vaksinasi Rendah Bikin Situbondo Naik dari Level 1 ke 3

Selain Sumenep, capaian vaksinasi di Kabupaten Sampang juga rendah. Dosis pertama baru mencapai 14,68%. Lalu dosis kedua masih 6,03% dan dosis ketiga 56,27%.

Sebelumnya, Anggota Satgas Kuratif COVID-19 Jatim Dr Makhyan Jibril mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya capaian vaksinasi.

"Kita pantau di 5 daerah, di antaranya di Madura Raya, Situbondo ini cakupan vaksinasinya masih rendah. Ada beberapa faktor, pertama mungkin memang dari literasi masyarakat sekitar terhadap COVID-19 dan vaksinasi masih kurang," kata Jibril kepada detikcom, Senin (20/9/2021).

Jibril juga mengatakan, pemerintah sudah menyediakan gerai vaksinasi. Tapi masih terbilang minim peminat. Menurut Jibril, ada indikasi minim koordinasi yang terjadi di daerah-daerah tersebut. Salah satunya kurangnya kerja sama antarlini, termasuk dukungan pihak swasta.

"Padahal vaksinasi ini penting untuk membentuk herd immunity. Rendahnya literasi ditambah koordinasi yang belum maksimal jadi sulit. Minimnya koordinasi untuk menggelar vaksinasi massal, atau mempermudah jangkauan kepada masyarakat agar bisa menerima vaksin ini sangat diperlukan," ungkapnya.

(hil/fat)