PERSI Jatim Sebut RS Akan Lebih Siap Jika Ada COVID-19 Gelombang 3

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 14:43 WIB
Kasus COVID-19 di Jatim terus naik. RS rujukan COVID-19 di Surabaya juga sudah ada yang hampir penuh dengan pasien COVID-19, seperti RSI Surabaya A Yani.
Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jatim, dr Dodo Anando MPh/Foto: Esti Widiyana/detikcom
Surabaya -

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jatim, dr Dodo Anando MPh mengatakan, RS di Jatim siap jika ada kasus COVID-19 gelombang 3. Sebab, RS sudah berpengalaman.

"Siap, ndak masalah. Kita sudah pengalaman. Kalau yang pertama itu kita tertatih-tatih karena kita ndak pengalaman pandemi. Kita di Bulan Maret sampai Mei 2020 kita agak bingung mencarikan tempat, ruang isolasi khusus," kata dr Dodo saat dihubungi detikcom, Selasa (21/9/2021).

Lalu, lanjut Dodo, pada Januari-Februari 2021 kasus COVID-19 naik. Di mana banyak pasien berusaha mencari ventilator.

"Kemudian turun lagi Maret-April. Lalu habis Lebaran tanggal 15 Mei naik terus sampai awal Agustus. Awal Agustus turun lagi sampai sekarang. Doa kita ndak ada gelombang 3. Misalkan ada pun kita sudah pengalaman dua kali gelombang. Insyaallah siap. Yang penting itu masalah obat, oksigen itu ada, semua aman, insyaallah," jelasnya.

Dodo yang juga Dirut RS Islam Surabaya A Yani menekankan, yang paling penting dilakukan oleh masyarakat adalah protokol kesehatan. Meski Jatim sudah PPKM level 1, bukan berarti bisa mengabaikan prokes.

"Epidemiologi ngomong kemungkinan ada gelombang 3. Sekarang tinggal masyarakat gimana caranya protokol kesehatan itu dijalankan. Tidak boleh lepas masker. Kan PPKM sudah longgar, Jatim sudah PPKM level 1. Salah satu yang paling penting masker," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengajak warga untuk selalu berdoa. "Dan kelihatannya belum masuk di Indonesia (varian MU), apa lagi di Surabaya. Surabaya wonge (orangnya) taat-taat. Orang jualan pakai gerobak pakai masker. Sudah bagus lah masyarakat itu sudah betul-betul sadar. Karena mereka melihat gelombang 2 kelabakan, yang meninggal banyak, di Surabaya pernah mencapai 100 orang yang meninggal sehari," urainya.

"Ini menunjukkan bahwa sekarang sudah bagus. Kita juga dipuji oleh negara-negara di luar karena kecepatan menurun. Malaysia, Singapura, Thailand naik lagi. Indonesia hebat. Yang lain turun kita naik, sekarang mereka naik kita turun. Itu kan bagus," pungkasnya.

(sun/bdh)