Di Balik Aksinya yang Berani, Suroto Ternyata di Ambang Kebangkrutan

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 10:51 WIB
Suroto, Peternak Blitar yang diamankan polisi saat kedatangan Jokowi bernasib mujur. Berkat kenekatannya membentangkan poster, dia diundang ke Istana Kepresidenan.
Suroto (Tengah) Peternak Blitar yang diundang ke Istana (Foto: Istimewa)
Blitar -

Nama Suroto kini dikenal banyak orang. Namun dia enggan diwawancara wartawan karena memang profil warga Blitar ini pendiam. Nasibnya di ujung bangkrutlah yang membuatnya nekat demo solo saat Presiden Jokowi berkunjung ke Blitar.

Seorang kawan sesama peternak layer, Suryono menceritakan, sebenarnya Suroto adalah sosok pekerja keras namun pendiam. Suroto merupakan peternak ayam petelur sejak puluhan tahun lalu di Desa Suruhwadang Kecamatan Kademangan. Sementara Suryono, juga peternak layer di tetangga desa bernama Desa Bendosari.

Kecamatan Kademangan sisi selatan, memang merupakan sentral produsen telur. Menurut cerita Suryono, pada awalnya Suroto punya populasi ayam layer di atas 10.000 ekor. Namun sejak harga pakan dan jagung yang fluktuatif di tahun 2016, secara bertahap Suroto mengurangi jumlah populasi ternaknya.

"Saya dengar kabar terakhir itu ayamnya tinggal 5.000. Kami semua mengurangi populasi juga soalnya gak nyucuk (Tidak nututi) antara harga pakan dengan harga telur," tutur Suryono saat dihubungi detikcom, Rabu (15/9/2021).

Kondisi terpuruknya peternak layer, akan membaik saat harga telur di atas Rp 18.000/kg. Namun petaka muncul saat harga telur di bawah angka itu. Setidaknya ada 4.500 peternak layer bernasib sama dengan Suroto. Para peternak Blitar pun beramai-ramai mendatangi bank menggadaikan sertifikat aset mereka untuk mendapatkan pinjaman modal.

"Makin parah sejak tahun kedua pandemi. Kalau awal pandemi, telur produksi kami terserap untuk bansos. Dari kandang dapat harga Rp 18.000 itu gak untung, tapi bisa menutup ongkos produksi dan pakan. Tapi sejak 2021, ada BTS. Telur kami tidak terserap bikin harganya anjlok Rp 13.200/kg dari kandang," jelasnya.

Anjloknya harga telur berbanding terbalik dengan harga pakan sentrat dan jagung. Jika tahun 2020, harga sekarung sentrat masih di harga Rp 320.000/sak. Namun sejak tahun 2021 naik menjadi Rp 410.000/sak. Sedangkan jagung yang menjadi bahan utama campuran sentrat, harganya pelan tapi pasti terus menanjak. Dari semula di kisaran Rp 4.500/kg, saat ini mencapai Rp 6.500/kg.

"Kondisi Pak Suroto dan kami semua makin parah. Semua yang kami punya sudah dipatok ayam. Kalau lama dibiarkan tanpa campur tangan pemerintah, ayam akan makan ayam," tandasnya.

Kondisi kepepet inilah yang membuat sosok pendiam seperti Suroto berani bertindak nekat. Dia membentangkan kertas karton sebagai penyaluran aspirasi dan keluhan peternak yang ingin disampaikan langsung ke pemimpin di negeri ini.

Simak video 'Polisi Amankan Seorang Pria Saat Jokowi Kunker di Blitar':

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)